Find and Follow Us

Rabu, 22 Januari 2020 | 06:09 WIB

Rel Ambles di Cilebut Karena Pendangkalan Sungai

Sabtu, 24 November 2012 | 17:35 WIB
Rel Ambles di Cilebut Karena Pendangkalan Sungai
inilah.com/Wirasatria
facebook twitter

INILAH.COM, Bogor - Amblesnya rel kereta api listrik di antara Stasiun Cilebut dan Bojonggede disebabkan dari pendangkalan Sungai Cipakancilan yang mengakibatkan tebing longsor setelah tergenang air.

"Sungai ini mendangkal, jadi luapan air menggenang ke jalan, sehingga air mengalir ke fondasi rel. Awalnya hanya pengikisan tanah, hingga akhirnya terjadi longsor," kata kata Kepala Hubungan Masyarakat PT Kereta Api Indonesia (KAI), Sugeng Priyono di Bogor, Sabtu (24/11/2012).

Luapan air Sungai Cipakancilan terjadi karena hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut pada Rabu (21/11), dan sebelumnya hujan juga turun hampir setiap hari hingga luapan air sering terjadi.

Ia mengemukakan, sungai tersebut dibangun oleh Belanda sebagai daya dukung rel, namun kurangnya perhatian tata ruang menyebabkan fungsi sungai tersebut menjadi tidak terkendali.

"Kami meminta pemerintah daerah untuk mendukung dan membantu PT KAI dalam menjaga infrastruktur kereta api ini dengan lebih memperhatikan tata ruang bangunan. Kalaupun ada pembangunan ada baiknya dihindari dekat dengan rel," katanya.

Amblesnya rel kereta api listrik di antara Stasiun Cilebut dan Bojonggede tersebut telah berdampak pada lumpuhnya perjalanan kereta dari Bogor dan Cilebut. Para penumpang dari Bogor yang ingin ke Jakarta harus naik dari Stasiun Bojonggede.

Kondisi ini telah membani para penumpang kereta api yang harus merogoh kocek lebih karena harus mengeluarkan ongkos lebih dari Bogor ke Bojonggede.

PT KAI mengupayakan satu jalur rel KRL sudah bisa digunakan secara bergantian dari arah Jakarta maupun Bogor dalam kurun waktu sepekan mendatang, sedangkan satu jalur rel yang rusak ditargetkan bisa digunakan paling lambat 20 hari mendatang.

Menurut Kepala Desa Cilebut Timur, Taufik Hidayat, Sungai Cipakancilan atau beberapa orang menyebutnya dengan nama Kali Baru ini telah mengalami pendangkalan sejak 10 tahun terakhir.

Ia mengatakan, saat dirinya masih kecil situasi dan kondisi anak Sungai Cisadane itu selebar kurang lebih 15 meter dan kedalaman 1,5 meter.

"Sejak 10 tahun terakhir ini sungai makin lama makin mengecil dan mendangkal seiring bertambahnya jumlah penduduk di wilayah ini," katanya.

Taufik menceritakan, dulu sungai sering digunakan mandi oleh anak-anak sekitarnya.

Aliran sungai juga bersih dan tidak ada sampah, namun ia mengemukakan, kini sampah menumpuk dan menyatu dengan tanah yang memadati sungai.

"Selain mendangkal juga karena dinding bibir sungai ini terlalu rendah sehingga lebih tinggi air dari tepiannya jadi meluap," katanya.

Menurut Taufik, setiap hujan deras cukup lama, maka air akan meluap dan menggenang ke jalan raya. Air yang meluap inipun mengalir dan merembes ke jalur rel yang jaraknya berdekatan dengan jalan raya dan sungai.

"Kami sering menggelar kerja bakti membersihkan gorong-gorong agar saluran air tidak mampet, dan air yang tergenang bisa mengalir," katanya.

Kerja bakti yang dilakukan warga setiap Sabtu dan Minggu, lanjut Taufik, memang tidak sampai pada tahap pengerukan sungai, karena terkendala peralatan dan juga kemampuan warga.

Taufik mengatakan, tanda-tanda longsor sudah terlihat sebelum terjadi. Tebingan tersebut sudah menunjukkan retakan-retakan, karena air yang keluar dari dalam tanah.

Ia menyebutkan, pihak PT KA sudah melakukan antisipasi dan perbaikan dengan memasang batu-batuan untuk mencegah longsor.

"Tapi, keburu kejadian karena hujan yang hampir setiap hari. Tanah di dalam tebing sudah labil juga," katanya.

Taufik menyarankan, agar pendangkalan sungai dicegah dengan pengerukan dan membangun dinding tepi sungai lebih tinggi agar air tidak meluap keluar. [ant]

Komentar

x