Find and Follow Us

Rabu, 23 Oktober 2019 | 08:41 WIB

Anas: Jangan Adu Domba Umat Demi Jabatan

Oleh : Agus Rahmat | Kamis, 6 September 2012 | 03:15 WIB
Anas: Jangan Adu Domba Umat Demi Jabatan
ist
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Memilih pemimpin yang seiman pada putaran kedua pilkada DKI Jakarta 2012, jangan dipersoalkan karena justru akan mengadu domba umat. Apalagi, dilontarkan oleh kandidat calon.

"Inilah demokrasi, orang bebas memilih termasuk memilih dengan keyakinannya, apapun keyakinannya. Orang Islam dan umat agama lainnya tidak pernah mempermasalahkan hal itu," kata Ketua Umum Persatuan Guru Ngaji (Perguji) Anas Nasuhasobri, di Jakarta, Rabu (5/9/2012).

Memilih pemimpin seiman merupakan anjuran dalam agama Islam. Itu sudah termaktub dalam kitab suci. Sehingga, jika dikatakan memilih pemimpin seiman adalah sebagai SARA, justru itu tidak tepat.

"Jika tidak tahu isi Al Quran maka janganlah membuat pernyataan yang memojokkan. Di beberapa negara yang mengaku demokrasi bahkan ada yang lebih ekstrem, kalangan yang menghujat Islam justru dibolehkan. Indonesia bersyukur hal itu tidak dibolehkan. Jadi tolong jangan dimulai untuk mengadu domba umat Islam hanya demi jabatan," terang Anas.

Dia menyentil cagub-cawagub yang meninggalkan tugasnya demi mengejar jabatan lain. Jokowi sebagai Walikota Solo dan Basuki Tjahja Purnama atau Ahok sebagai anggota DPR. Menurutnya, sikap itu adalah bentuk kemunafikan.

"Ada 3 ciri orang munafik yaitu bicara selalu bohong, kalau berjanji tidak ditepati, diberikan amanah tidak menyampaikan. Pemimpin yang meninggalkan rakyatnya demi mengejar satu hal yang menurutnya lebih baik dan bersifat pragmatis tentunya bisa dikategorikan pemimpin munafik,' terangnya.

Anas mengaku heran ketika masalah agama atau pemimpin seiman yang dipersoalkan. Baginya, tidak ada korelasi dengan himbauan tersebut karena masing-masing agama punya anjuran.

Justru, lanjut Anas, yang terpenting adalah bagaimana pemimpin tersebut bisa amanah menjalankan tugas. Jika diamanahkan menjalankan sampai 5 tahun, seharusnya itu bisa dipenuhi.

"Jadi bukan masalah agamanya yang lebih utama, tapi menjalankan tugas-tugasnya dengan benar dan sesuai amanah yang diberikan termasuk jangka waktu melaksanakannya. Jika ada meninggalkan masyarakatnya atau selalu mencari jabatan yang lebih tinggi dan rela merubah-ubah ideologi politiknya demi jabatan, padahal pencapaiannya pun belum sesuai janji, maka ini munafik," katanya. [gus]

Komentar

Embed Widget
x