Find and Follow Us

Senin, 18 November 2019 | 20:31 WIB

Tabloid Jakpress Edisi 05

Pemprov Bangun Tempat Parkir Knock Down,

Sabtu, 23 Juni 2012 | 19:30 WIB
Pemprov Bangun Tempat Parkir <i>Knock Down</i>,
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Salah satu penyebab kemacetan di Jakarta adalah terbatasnya tempat parkir bagi mobil maupun sepeda motor. Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memecahkan masalah ini, mulai dari larangan parkir di bahu jalan, menaikan tarif parkir, hingga membangun lapangan parkir di pinggiran Jakarta.

Meski demikian, upaya-upaya tersebut terkesan tetap tidak mampu mengurai kemacetan di Jakarta. Salah satu penyebab utamanya, tentu saja karena pertumbuhan kendaraan di ibu kota yang tak berbanding lurus dengan penambahan jalan maupun tempat parkir. Setiap tahun penambahan roda dua dan empat rata-rata mencapai 9,5%.

Angka itu belum termasuk 1,3 juta kendaraan komuter yang masuk ke Jakarta setiap hari. Sementara itu penambahan ruas jalan hanya tumbuh 0,01% per tahun. Tidak heran bila pada tahun 2014 kota Jakarta akan mengalami macet total atau gridlock. "Itu artinya tinggal dua tahun lagi dan persoalan macet ini harus segera dipecahkan bersama-sama," ujar Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

Namun, mencari lahan parkir di ditengah kota yang disesaki oleh pemukiman dan gedung-gedung bukanlah perkara gampang. Sementara itu pertumbuhan jumlah kendaraan sulit direm. Singkat kata, tanpa ide yang cermerlang, masalah parkir mustahil terpecahkan.

Syukurlah, Bagus Tatang Dewantoro, Ketua Umum Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI) DKI Jakarta, punya ide untuk membangun tempat parkir bertingkat. Ide ini memang tidak baru karena hanya mencotoh tempat parkir yang sudah diterapkan di kota-kota besar seperti Tokyo, Jepang. "Kalau kita ingin menirunya, syah-syah saja," kata Bagus.

Nah, parkir bertingkat yang diusulkan Tatang memeng tidak memerlukan lahan yang luas. Hebatnya lagi, tempat parkir ini memakai sistem pasang bongkar (knock down system) sehingga bisa dipindah-pindah sesuai dengan kebutuhan. Walau pun dengan sistem knock down, bangunan parkir bertingkat ini berdiri di atas pondasi yang sangat kokoh dan terbuat dari bahan khusus yang mampu menahan ratusan mobil.

Di Jakarta, tempat parkir bertingkat ini sudah dibangun di dekat halte busway koridor VI jurusan Rabungan Dukuh Atas, Ragunan, Jakarta Timur. Bangunan parkir seluas 1.072 M2 itu menampung 91 kendaraan roda empat dan sekitar 100 unit sepeda motor. Ada tarif yang dikenakan untuk mobil sebesar Rp 3.000 untuk jam pertama dan Rp 1.500 untuk jam berikutnya. Sedangkan sepeda dikenakan Rp 750 per jam.

Biaya pembangunan tempat parkir bertingkat ini, juga lebih murah dibandingkan dengan parkir yang ada di gedung-gedung perkantoran. Lahan yang digunakan pun cukup efisien, sehingga bisa menekan biaya investasi. "Pemprov DKI Jakarata akan membangun tempat parkir bertingkat ini di beberapa titik lagi," katanya.

Setelah di Ragunan, dalam waktu dekat Pemprov DKI Jakarta akan membangun tempat parkir bertingkat di dekat halte TransJakarta Kalideres (Jakarta Barat) dan Kampung Rambutan (Jakarta Timur). Nantinya, parkir bertingkat ini akan di 10 koridor TransJakarta yang ada. Dari kajian yang dilakukan Pemprov DKI, ke-10 tempat parkir bertingkat itu mampu menampung sebagian besar roda empat dari kawasan pingir Jakarta.

Yang menarik, tempat parkir ini akan diintegrasikan dengan TransJakarta. Maksudnya, biaya parkir dan ongkos naik bus TransJakarta dibuat satu paket. Untuk mobil, biayanya sekitar Rp 8.000 per hari. Biaya ini sudah termasuk ongkos untuk naik bus TransJakarta sebesar Rp 3.500. Sementara itu sepeda motor dikenakan biaya Rp 5.000.

Menurut Udar Pristono, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, pembangunan tempat parkir bertingkat di setiap koridor TranJakarata itu diharapkan dapat mengurangi kemacetan di kota Jakarta. "Masyarakat pinggir Jakarta nantinya bisa memarkir kendaraannya di tempat itu, kemudian mereka menggunakan bus TransJakarta," katanya. Apalagi hampir sebagian besar pusat bisnis di Jakarta, seperti segitiga Sudirman Kuningan Thamrin, kini sudah dilayani oleh bus TransJakarta.

Pembanguna tempat parkir bertingkat memang hanya salah satu cara pemerintah untuk mengatasi kemacetan di kota Jakarta. Cara lain tengah dikaji oleh Pemprov DKI Jakarta adala penerapan sistem jalan berbayar atau Elektronic Road Pricing (ERP) pada kawasan three in one. Upaya lainnya adalah menaikan tarif parkir. "Untuk zona tertentu, tarif parkir tinggi dimungkinkan bila memang sangat diperlukan," kata Fauzi Bowo.

Jika semua rencana itu bisa direalisasikan, bukan tidak mungkin ancaman gridlock yang diperkirakan terjadi pada 2014 bisa diatasi. Tapi ingat, pembangunan tempat parkir bertingkat, ERP, dan kenaikan tarif parkir hanya akan berhasil mengatasi kemacetan sementara waktu. Oleh sebab itu, perlu adanya upaya lain sifatnya jangka panjang. Mislanya mengubah budaya masyarakat dalam menggunakan kendaraan pribadi, di samping tentunya pembangunan infrastruktur transportasi.[bay]

Komentar

Embed Widget
x