INILAH.COM, Jakarta - Masyarakat Tangerang Selatan (Tangsel) harus berperan aktif mengawasi penghitungan suara pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Tangsel. Dengan selisih suara yang ketat, ditengarai akan mudah terjadi kebocoran suara.
Akibatnya, akan ada yang dirugikan sehingga mudah menyulut konflik antar pendukung.
"Kebocoran hasil suara biasanya sering terjadi di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), seperti yang banyak terjadi pada Pemilukada di beberapa daerah lainnya. Jadi, PPK harus diawasi," ucap Eep Saefullah Fatah, pengamat politik Universitas Indonesia (UI) kepada INILAH.COM, Minggu (14/11/2010).
Terlebih upah para petugas PPK minim, sehingga rawan terjadi aksi suap dari pendukung salah satu calon untuk melakukan kecurangan. "Dan jika ada masalah pada penghitungan, masyarakat jangan mudah terprovokasi," harap Eep.
Hasil survei Lingkaran Survey Indonesia (LSI) dan dan Konsultan Citra Indonesia (KCI), pasangan Airin Rachmi Diany-Benyamin Davnie, sementara unggul tipis dengan perolehan suara mencapai 46,09 persen. Sedangkan pasangan Arsid-Andre Taulany memperoleh suara 45,83 persen.
Hasil survei dari LSI dan KCI, memiliki tingkat kesalahan satu persen. Dengan demikian, perolehan suara berimbang. Pasalnya, selisih kemenangan pasangan Airin-Benyamin atas kubu Arsid-Andre hanya 0.26 persen.
Sedangkan dari hasil perhitungan cepat yang dilakukan kubu Arsid-Andre mendapatkan hasil berbeda. Hasil penghitungan cepat lewat formulir C-1 menyatakan, pasangan Arsid-Andre justru unggul.
Pasangan nomor urut tiga ini memperoleh suara sebesar 47,67 persen. Sedangkan pasangan Airin-Benjamin memperoleh suara sebesar 44,61 persen. Dengan demikian, ada selisih 3,06 persen.[iaf/nic]