Rabu, 17 September 2014 | 18:31 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Bagaimana Akhir Pilkada Jatim?
Headline
Bachtiar Effendi - inila.com/Raya Abdullah
Oleh: R Ferdian Andi R
metropolitan - Jumat, 14 November 2008 | 19:44 WIB
INILAH.COM, Jakarta Pilkada Jawa Timur memasuki babak baru. Pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (KaJi), Jumat (14/11), mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait keputusan KPUD yang memenangkan Soekarwo-Syaifullah Yusuf. Bagaimana ujungnya?
Kuasa hukum KaJi, M Maruf mengklaim pihaknya telah mengumpulkan 20% barang bukti
kecurangan perhitungan hasil Pilkada Jatim putaran II.
"Sudah 20% barang bukti pelanggaran kita kumpulkan," katanya di gedung MK, Jakarta. Pihaknya berharap, MK dapat memutus sengketa Pilkada Jatim dengan seadil-adilnya serta mengabulkan permohon pemohon.
Klaim kubu KaJi terkait kecurangan penghitungan suara juga ditegaskan oleh Wasekjen DPP PPP, Romahurmuzy di Gedung DPD. Menurut dia, PPP sebagai partai pengusung telah menyiapkan dalil hukum terkait penggelembungan atau pengempesan suara.
Bentuknya berupa kreasi form rekapitulasi suara C1 di tempat pemungutan suara dan A1 di tingkat kecamatan. "Indikasi dan fakta-fakta pendukung serta penyiapan sejumlah saksi juga telah dilakukan," ujarnya.
Pendukung pasangan KaJi menuntut pilkada ulang di empat kabupaten: Sampang, Sumenep, Bangkalan, dan Pamekasan. Selain itu, mereka mendesak penghitungan ulang di 19 dari 38 kabupaten di Jatim.
Pengamat politik Bachtiar Effendi menyarankan tim KaJi menghadirkan bukti otentik di MK untuk memperkuat tuntutan. "Kalau tidak, MK akan membaliknya," katanya dalam diskusi Perspektif Indonesia 'Menerka Ujung Pilkada Jatim' di Gedung DPD RI.
Meski demikian, Bachtiar ragu atas tuduhan yang menurutnya merupakan risiko politik yang besar. "Saya kok ragu, seberani itu melakukan risiko politik. Ini juga akan berimplikasi pidana," ujarnya.
Hal demikian juga disampaikan peneliti Strategic Political Intelligence, Hamid Basyaib. Menurut dia, perlu adanya mekanisme yang mempersulit jika ada ketidakpuasaan hasil pilkada.
"Namun jangan sampai ketika dipersulit, pembuktian bukti otentik justru mengamankan indikasi penipuan itu sendiri dengan strategi canggih," katanya.
Pasangan KaJi dalam mengajukan keberatan hasil keputusan KPUD juga tidak terlepas dari hasil penghitungan cepat lembaga survei. Dalam penghitungan cepat saat pelaksanaan pilkada, setidaknya tiga lembaga survei menempatkan pasangan KaJi sebagai pemenang.
Sebut saja Lembaga Survey Indonesia (LSI) pimpinan Saiful Mujani yang menyebutkan pasangan KaJi memperoleh suara sebanyak 50,44%, sedangkan KarSa 49,56 %. Sedangkan dari perhitungan cepat LSI pimpinan Denny JA, KaJi meraup 50,76 % dan KarSa 49,24%. Adapun hasil Lembaga Survei Nasional (LSN) KaJi memperoleh 50,71%, sedangan KarSa 49,29%.
Menurut Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Arman Salam, lembaga survei tidak pernah mengatakan siapa unggul atas siapa dan menyebutkan quick count adalah hasil final.
"Meski quick count itu ada standar akademiknya. Soal indikasi kecurangan, mungkin saja ada," ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Achmad Mubarok menilai, gugatan tim KaJi atas hasil pilkada Jatim menunjukkan belum siapnya kandidat untuk kalah dan menang.
"Tidak aneh jika selisihnya hanya setengah persen. Pilkada Lampung saja yang selisihnya 30%-40%, yang kalah tetap protes," ujar guru besar psikologi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.
Pendukung KarSa menegaskan, bila pun nantinya keputusan MK menetapkan pasangan KaJi menang atas KarSa, pihaknya akan menerima dan mematuhi putusan MK. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER