Find and Follow Us

Selasa, 23 Juli 2019 | 12:11 WIB

Rumah Ibadah Nabi Khidir Palsu Dibongkar Warga

Oleh : SALVIAH IKA PADMASARI | Minggu, 31 Januari 2010 | 14:05 WIB
Rumah Ibadah Nabi Khidir Palsu Dibongkar Warga
istimewa

INILAH.COM, Makassar- Rumah ibadah aliran Puang Malea, pengikut Syamsuddin yang mengaku sebagai Nabi Khaidir di Kampung Lena, Desa Mirring, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat Minggu (31/1) sekitar pukul 10.30 wita dibongkar.Harun (32 thn), salah seorang warga di Desa Mirring yang ikut dalam pembongkaran itu saat dikonfirmasi via ponselnya, Minggu siang (31/1) mengatakan, rumah ibadah yang berada di areal perbukitan dan hutandi Kampung Lena ini dibongkar warga. Sehari sebelumnya, warga berinisiatif menyegel rumah ibadah berukuran kira-kira 4 X 6 meter ini dengan alasan agar aliran Puang Malea ini tidak menyebar luas.Ajaran Puang Malea menurut warga sangat menyimpang. Antara lain, calon pengikut sebelum masuk ajaran Syamsuddin yang masih berusia 28 tahun itu, harus mengaku Nabi Khaidir selaku pimpinan aliran ini.Kemudian, pengikut terlebih dahulu harusdisucikan dengan mandi bersih yang diawali dengan buang hajat. Calon pengikut aliran ini mandi tanpa busana dengan kepala ditutupi selembar kain putih."Tapi untungnya pengikut aliran ini diwakili Syamsuddin sudah mengaku dan minta maaf jika selama ini keliru dan apa yang dilakukannya di luar batas kesadaran. Dan saat ini Syamsuddin dan pengikutnya masih menenangkan diri," kata Harun.Sementara itu, Kapolres Polewali Mandar AKBP Gusti Ngurahrai Mahaputra saat dikonfirmasi via ponselnya membenarkan pembongkaran rumah ibadah tersebut. Disebutkan, tujuh warga pengikut aliran Puang Malea ini termasuk Syamsuddin telah dilepas dan dipulangkan ke kampungnya dengan pengawasan Departemen Agama Polewali Mandar. Pembongkaran tersebut disaksikan langsung pengikut aliran ini atas kesadaran sendiri. "Pembongkaran ini dilakukan sendiri oleh warga dan pengikut aliran yang telah mengaku sadar dan akan meninggalkan alirannya. Polisi hanya memantau. Sementara itu, meski tujuh pengikut aliran ini telah dilepas, mereka tetap berstatus wajib lapor," kata AKBP Gusti Ngurahrai Mahaputra.[ims]

Komentar

Embed Widget
x