Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Oktober 2017 | 10:41 WIB

Sandiaga Janji Kooperatif Terkait Pemeriksaannya

Oleh : Willi Nafie | Rabu, 11 Oktober 2017 | 18:45 WIB
Sandiaga Janji Kooperatif Terkait Pemeriksaannya
Wakil Gubernur Jakarta terpilih Sandiaga Uno - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Wakil Gubernur Jakarta terpilih Sandiaga Uno menolak dianggap mangkir dari panggilan polisi terkait kasus dugaan penipuan dan penggelapan tanah di Tangerang Selatan.

Selain sudah melayangkan surat permintaan penundaan pemeriksaan, Sandi juga tengah disibukkan persiapan jelang pelantikan 16 Oktober mendatang.

"Intinya sama seperrti dulu, kita kooperatif apaun itu keterangan yang diperlukan," kata Sandi, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (11/10/2017).

Sandi pun mengaku tak memusingkan rencana pemanggilan tersebut, namun sedang fokus agar tetap konsisten dalam mewujudkan janji-janji yang dilontarkan saat berkampanye dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Yang penting warga Jakarta percaya bahwa pemerintahan kedepan akan mampu mewujudkan realisasi harapan mayarakat," pungkasnya.

Sebelumnya, Djoni Hidayat melalui kuasanya, Fransiska Kumalawati Susilo, melaporkan Sandiaga dan rekannya, Andreas Tjahjadi ke Polda Metro Jaya pada 8 Maret 2017 lalu, terkait dugaan penggelapan uang hasil penjualan tanah senilai Rp 8 miliar.

Saat itu, Sandiaga dan Andreas merupakan direksi di PT Japirex. Mereka telah melakukan penjualan properti berupa sebidang tanah. Sandiaga dan Andreas berencana menjual aset tanah Japirex seluas kira-kira 6.000 meter persegi di jalan Curug Raya KM 3.5 Tangerang Selatan. Di belakang tanah itu terdapat 3.000 meter persegi milik Djoni Hidayat.

Djoni Hidayat juga merupakan jajaran manajemen di PT Japirex tersebut. Berdasarkan keterangan Djoni yang diungkapkan Fransiska, tanah 3.000 meter tersebut merupakan tanah titipan dari mendiang Happy Soeryadjaya. Diketahui almarhumah merupakan istri pertama Edward Soeryadjaya anak dari William Soeryadjaya, pengusaha kondang pendiri PT Astra Internasional.

Sandiaga dan Andreas kemudian mengajak Djoni untuk ikut menjual tanahnya. Sandiaga dan Andreas menyebut tanah Djoni tidak memiliki akses jalan. Mereka juga menjanjikan memberikan keuntungan dari hasil penjualannya.

Pada akhir 2012, seluruh properti tersebut laku terjual dengan harga Rp 12 miliar. Meski laku terjual, Djoni hanya diberikan uang sekitar Rp 1 miliar saja. Uang itu diberikan oleh Andreas sebagai bagian dari pemutusan kerja dan keuntungan.

Awalnya Djoni mengira jika sisa uangnya itu telah diberikan Sandiaga dan Andreas kepada keluarga Edward Soeryadjaya. Namun, belakangan ini diketahui jika uang hasil penjualan tanah tersebut tidak pernah diterima oleh keluarga almarhumah Happy Soeryadjaya.[ivs]

Komentar

 
x