Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Oktober 2017 | 19:03 WIB

Transjakarta Kampanye Stop Rokok

Oleh : - | Selasa, 6 Juni 2017 | 19:45 WIB
Transjakarta Kampanye Stop Rokok
Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, Prijo Sidipratomo - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Komnas Pengendalian Tembakau menyambut baik aksi Pemrov DKI mendukung kampanye stop rokok melalui stiker-stiker yang dipasang di Bus Transjakarta dan melintas dijalan-jalan ibukota.

Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, Prijo Sidipratomo menyebut, rokok (atau lebih spesifik rokok kretek filter) menjadi komoditi nomor dua tertinggi yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan setelah beras, yaitu masing-masing sekitar 8 persen, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

"Iklan layanan masyarakat yang kami buat ini untuk mengingatkan masyarakat bahwa merokok itu sangat sia-sia," katanya di Balaikota, Selasa (6/6/2017).

Di sisi lain, Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencatat, beban biaya pelayanan kesehatan penyakit tidak menular (PTM) terbesar pada 2015 adalah penyakit-penyakit utama penyebab kematian, yaitu penyakit jantung, gagal ginjal kronik, kanker, dan stroke, yang mencapai 23,9 persen dari total biaya pelayanan kesehatan atau sekitar 13, 6 triliun rupiah.

Sementara itu, konsumsi rokok adalah faktor utama risiko penyakit-penyakit penyebab kematian tersebut, dengan stroke menempati posisi tertinggi penyebab kematian.

Dari fakta-fakta di atas, kita dapat melihat bagaimana konsumsi rokok dapat menjadi beban yang sangat besar dalam ekonomi, baik secara makro maupun mikro, terutama pada penduduk miskin.

Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI) pernah merilis hasil risetnya bahwa biaya konsumsi rokok pada keluarga miskin sangat besar, yaitu 14 kali biaya konsumsi daging, 11 kali biaya kesehatan, dan tujuh kali biaya pendidikan.

Sangat disayangkan bahwa prioritas pengeluaran keluarga justru bukan untuk peningkatan kualitas anggota keluarga, namun untuk konsumsi yang malah merugikan.

"Untuk itulah, kita wajib mengingatkan masyarakat bahwa konsumsi rokok bukan hanya merugikan kesehatan, namun juga ekonomi. Karena itu, ungkapan "merokok hanya membakar uang" perlu dihidupkan kembali," ungkapnya.

Bekerja sama dengan PT TransJakarta, ILM dengan jargon "Ngerokok Cuma Bakar Uang" ini digambarkan dengan dompet kosong yang tertera di badan bus TransJakarta.

Selain itu, ILM bertema ekonomi ini juga disematkan di kaca belakang pada sepuluh bus reguler lain dengan harapan dapat menginspirasi masyarakat untuk berpikir ekonomis dalam pilihannya mengonsumsi rokok saat melihat ILM ini beredar di jalanan Jakarta.

"Masyarakat Indonesia harus pandai memilih prioritas dalam hidupnya sehingga bukannya memilih membelanjakan uangnya untuk rokok, tapi untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat, seperti perbaikan gizi keluarga, memilih pendidikan yang bagus untuk anaknya, dan sebagainya," tandasnya.

Dalam peluncuran ILM "Ngerokok Cuma Bakar Uang" pada bus TransJakarta yang diresmikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Saefullah, Komnas Pengendalian Tembakau juga memberikan Penghargaan Pengendalian Tembakau kepada PT TransJakarta yang telah turut melakukan upaya pengendalian tembakau di bidangnya.

Sejak tahun 2012, PT TransJakarta secara konsisten memberikan ruang iklan-iklan layanan masyarakat tentang bahaya rokok sehingga masyarakat Jakarta mendapat informasi yang seimbang dari iklan-iklan rokok yang selama ini beredar.[jat]

Komentar

 
Embed Widget

x