Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 Maret 2017 | 05:00 WIB
Hide Ads

Tuduhan Tahanan Tak Bisa Salat Perlu Diklarifikasi

Oleh : - | Minggu, 19 Maret 2017 | 15:56 WIB
Tuduhan Tahanan Tak Bisa Salat Perlu Diklarifikasi
(Foto: inilahcom/ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Tersiar kabar Rubby Peggy Prima, yang ditahan Polres Jakarta Barat karena telah memukul pendukung Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok didiskriminasi oleh pihak Kepolisian. Pengacara Aksi Cinta Tanah Air (ACTA) menuduh Polres Jakarta Barat telah melanggar hak azasi manusia karena di tahanan rambut Rubby dibotaki dan hanya boleh memakai celana pendek.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Kepolisian Edi Hasibun meluruskan memang ada aturan terkait penggunaan celana dan kain sarung.

"Dalam aturan perkap memang diatur dalam tahanan tidak diizinkan ada sarung dan celana panjang. Karena selama ini sering terjadi banyak masalah termasuk sarung digunakan untuk gantung diri dan menyimpan senjata api. Setiap barang yang masuk harus dijaga ketat," ujar Edi saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (19/3/2017).

Menurut mantan Komisioner Kompolnas itu, kalau ada larangan salat atau ibadah hal itu tidak dibenarkan.

"Cuma laporan ACTA itu perlu diklarifikasi kepada polisi apakah betul tuduhannya. Selama ini di seluruh tahanan tidak ada masalah bahkan salat jumat juga dilakukan di tahanan Polres Jakbar. Saran kami perlu diatur teknisnya oleh polisi bagaimana agar tahanan bisa nyaman melaksanakan ibadah dalam tahanan," papar Edi.

Ketua Umum Keluarga Besar Putra Putri Polri A.H Bimo Suryono menambahkan, Polri harus yakin dengan tindakannya yang dibenarkan UU. "Tindakan tegas Polri juga merupakan pembelajaran bagi masyarakat agar taat hukum," jelas Bimo.

Sebelumnya ACTA menuding penyidik Polres Jakbar telah melanggar HAM dalam menangani kasus dugaan pengeroyokan terhadap Iwan (43), warga Tambora, Jakarta Barat. Kapolres Jakarta Barat Kombes Roycke Harry Langie membantah keras tudingan pelanggaran HAM tersebut.

Dalam aduannya, salah satu hal yang disoroti oleh ACTA adalah RP, terduga pelaku pengeroyokan Iwan, dilarang mengenakan celana panjang. Atas hal ini, RP tidak bisa melaksanakan salat.

Wakil Kapolres Metro Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Polisi Adex Yudiswan membantah, hal yang disampaikan Advokat Cinta Tanah Air (Acta) yang juga penasihat hukum Rubby, soal tidak diizinkannya Rubby mengenakan celana panjang atau sarung saat akan melaksanakan salat.

Guna membuktikan hal tersebut, pihaknya sempat menunjukkan beberapa foto terkait kegiatan beribadah para tahanan di sana.

"Itu tidak benar (tudingan ACTA). Petugas menyediakan sarung untuk tahanan yang beragama Islam yang akan menjalankan ibadah salat. Begitu juga terhadap tahanan lain. Yang akan beribadah difasilitasi petugas," ujarnya di Polres Metro Jakarta Barat, Sabtu (18/3/2017).

Soal tudingan Acta yang menyebut kalau Rubby digunduli oleh aparat Polres Metro Jakarta Barat juga dibantah. Terkait hal itu, pihaknya tengah menyelidiki bagaimana kepala Rubby bisa menjadi pelontos.
"Kami tengah menyelidikinya. Bagaimana itu bisa terjadi," katanya.

Untuk diketahui, sesuai ketentuan atau SOP (Standard Operasional Prosedur) Polisi dalam menangani masalah tahanan, tahanan tidak boleh menggunakan celana panjang atau sarung selama di dalam ruang tahanan. Jika seorang tahanan ingin melaksanakan ibadah salat, pihak Polres Metro Jakarta Barat menyediakan sarung yang akan dipinjamkan. Setelah tahanan melaksanakan salat, polisi yang bertugas akan mengambil kembali sarung yang dipakai para tanahan tadi, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Larangan tahanan tidak diperbolehkan memakai celana panjang dan sarung di dalam ruangan tahanan sudah sesuai ketentuan yang tertera dalam Perkap (Peraturan Kapolri) No. 4 tahun 2015, di mana celana panjang sarung dan kain lebar lainnya dapat digunakan sebagai alat untuk menyembunyikan senjata dan benda berbahaya lainnya. Sarung jika digunakan secara profesional, bisa menjadi alat melarikan diri atau merusak jeruji sel tahanan. Di negara manapun, tidak ada tahanan yang diperbolehkan menggunakan celana panjang.

Apalagi dengan banyaknya kasus tahanan yang bunuh diri dengan cara gantung diri dengan kain sarung, sudah sepantasnya polisi waspada.

Polres Metro Jakarta Barat tidak pernah melarang tahanan melakukan ibadah kapan pun waktunya. Malah Polres Jakarta Barat juga mendatangkan tokoh-tokoh religius seminggu sekali guna memberikan siraman rohani dalam lingkup berbagai agama untuk para tahanan. [rok]

Tag

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x