Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 Maret 2019 | 15:18 WIB

Pilpres: Jokowi-JK VS Prabowo-Hatta?

Oleh : Darmawan Sepriyossa | Senin, 14 April 2014 | 12:46 WIB

Berita Terkait

Pilpres: Jokowi-JK VS Prabowo-Hatta?
Jokowi, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta Sementara suara akan terpilihnya pasangan Jokowi-JK sebagai capres-cawapres PDI Perjuangan berembus kuat, siapa calon yang akan digandeng Prabowo untuk pilpres Juli mendatang?

Dengan perolehan suara pilpres sekitar 12 persen, peluang Gerindra untuk mengusung Prabowo sebagai capres cukup terbuka. Pencarian suara sekitar 13 persen untuk memenuhi syarat pencalonan pun tampaknya bukan masalah besar. Paling tidak, ada dua partai yang terlihat tengah merapat ke Gerindra, yakni Demokrat dan PAN. Bila kedua partai itu bisa direkrut untuk memperkuat, koalisi ini setidaknya memiliki 29,5 persen suara. Cukup untuk mengajukan pasangan ke kontestasi Pilpres.

Persoalannya, siapa yang akan dipasangkan sebagai mitra Prabowo? Di tengah mengendurnya semangat Konvensi Capres Demokrat akibat perolehan suara yang melorot menjadi 10 persen, tampaknya partai ini tak akan meminta konsesi terlalu banyak. Memang ada peluang untuk mengajukan Pramono Edhi Wibowo, adik ipar SBY. Tetapi, selain tidak elegan karena akan menyinggung peserta konvensi lain, Prabowo-Pramono yang sama-sama berlatar belakang militer dan Jawa, bukanlah pasangan ideal untuk Indonesia.

Yang paling mungkin, Demokrat akan mengambil keputusan untuk tidak memenangkan siapa pun peserta konvensi. Alasannya logis: suara yang diperoleh Demokrat tak memungkinkan konvensi terus dilanjutkan. Bukankah awalnya juga mereka menggelar Konvensi Capres, bukan Konvensi Cawapres?

Artinya, mereka akan memberikan kesempatan kepada PAN untuk mengajukan cawapres. Itu artinya pasangan Prabowo adalah Hatta.

Pasangan ini boleh dibilang ideal. Duet itu sekaligus duet militer-sipil, Jawa-luar Jawa, dan mungkin saja sebagaimana tipologi pemimpin menurut Herbert Feith, adalah pasangan solidarity maker dan administrator. Prabowo menjadi yang pertama, dan Hatta dengan pengalaman 15 tahun di kabinet dengan 5 jabatan beragam, menjadi yang kedua.

Apalagi, pasangan ini sebenarnya punya legitimasi kuat untuk menghadapibila terbukti, pasangan Jokowi-Hatta. Februari lalu, lembaga kajian politik Pusat Data Bersatu mengumumkan hasil survei capres-cawapres. Dalam survei kepada 1.200 responden, pasanan PrabowoHatta melejit di urutan kedua dengan perolehan suara 10,2 persen, di bawah Jokowi-Jusuf Kalla yang saat itu meraup suara 22,3 persen.

Legitimasi itu dikuatkan, paling tidak, dua hal. Pertama, dalam sebuah diskusi yang digelar awal pekan ini, Minggu (13/4/2014), Direktur Riset Saiful Muzani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan, menyatakan Prabowo-Hatta cukup potensial. Menurut Djayadi, selain merupakan pasangan Jawa dan non-Jawa, keduanya juga pasangan capres-cawapres berbasis militer-sipil.

"Faktor subjektif, kekuatan elektoral partai, kekuatan kursi parlemen, potensi elektabilitas calon, basis massa dengan nasionalis-sekuler, nasionalis-Islam, sosio-psikologis militer-sipil, Jawa-nonJawa cukup memberi peluang," kata Djayadi.

Kedua, hasil survei Indo Barometer sebulan sebelum Pileg pun berbicara sama. Pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dianggap paling mampu bersaing dengan Jokowi dan siapa pun calon wakilnya.

Satu hal yang patut diperhitungkan, saat itu kepercayaan akan mampunya Jokowi mengerek suara PDI Perjuangan (Jokowi effect) tengah di puncak keyakinan. Sementara kita tahu, hasil Pileg membuktikan lain.

Hasil survei kerja sama Indo barometer-Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia itu bahkan sedikit mengejutkan bila dihadapkan dengan pergerakan partai mencari mitra usai Pileg kemarin: dukungan kepada Jokowi akan makin meningkat bila ia berpasangan dengan Jusuf Kalla dan Hatta Rajasa. Namun, dukungan kepada Jokowi akan menurun bila berpasangan dengan Puan Maharani. [dsy]

Komentar

Embed Widget
x