Kamis, 30 Oktober 2014 | 22:55 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Indonesia Pasar Potensial Perdagangan Narkoba
Headline
(Foto: inilah.com)
Oleh: Mahbub Junaidi
metropolitan - Rabu, 26 Juni 2013 | 19:55 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Jumlah pengguna narkoba saat ini, memang sudah masuk ke tingkat mengkhawatirkan. Bukan hanya di alam bebas, 40 sampai 50 persennya penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) atau Rumah Tahanan (Rutan) terjerat kasus narkotika.

"Saya yakin, dari jumlah itu 80 persennya pecandu sementara 20 persennya adalah pengedar," kata Sumirat kepada Inilah.com.

Dengan banyaknya pecandu dan pengedar, menurut Sumirat maka terjadilah transaksi di dalam penjara yang modus penyelundupannya bermacam-macam, dari mulai melibatkan petugas atau menyelipkannya dalam makanan yang dibawa pembesuk tahanan.

"Yang ditakutkan para pecandu bukan Lapas atau Rutan. Namun, rehabilitasi. Sebab, ketika pengguna berada dalam posisi kecanduan ini berarti ada di posisi yang nyaman. Make enak. Dia merasa enak dan nyaman. Kalau direhab, gua ga make lagi. Jadi merubah posisi itu yang berat," jelasnya.

Sumirat berharap, keluarga jangan menganggap anggotanya yang terlanjur menjadi pecandu narkoba sebagai aib. Namun, diperlakukan sebagaimana orang biasa agar mau mendapat pemulihan dengan jalan rehabilitasi.

BNN menurut Sumirat tidak hanya melakukan pemberantasan dengan menangkapi bandar-bandar saja. Namun, melakukan aksi potong kompas dengan mengajak para pengguna narkoba menyerahkan diri ke pihak Kepolisian dan menjalani pemulihan tanpa harus diproses secara hukum.

Sebab, dimana ada banyaknya jumlah pengguna narkoba, maka permintaan akan barang haram tersebut juga akan meningkat. Inilah yang membuat peredarannya sulit diberangus.

Indonesia merupakan pasar besar peredaran narkoba. Bahkan, harga setiap paketnya termasuk yang paling tinggi dibanding negara-negara lain. Pernyataan ini, berasal dari seorang bandar besar yang tertangkap di Thailand yang kemudian juga ikut diperiksa oleh BNN.

"Bandar, produsen atau pengedar hanya melihat dari sisi ekonomi," kata Sumirat.

Dengan adanya bandar yang hanya melihat dari sisi ekonomi, maka BNN juga melakukan pemberantasan dari sisi ekonomi pula. Artinya, tidak hanya memberangus tapi pasar harus dihapus dengan cara rehabilitasi dan diberi keterampilan agar para pengedar kecil beralih dari bisnis narkoba ke bisnis yang halal.

Pencegahan pun dilakukan terhadap orang yang belum pernah menyentuh barang haram tersebut. Sebab, jika pecandu ada 2,2 persen dari total penduduk Indonesia, berarti 97 persen lainnya belum pernah menggunakan narkoba. Inilah yang dijaga betul oleh BNN.[bay]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER