Kamis, 17 April 2014 | 07:49 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sejarah & Misteri di Balik Jembatan Panus Depok
Headline
Jembatan Panus - (Foto : istimewa)
Oleh: Renny Sundayani
metropolitan - Senin, 20 Mei 2013 | 10:07 WIB

INILAH.COM, Depok - Pernahkah Anda mendengar soal Jembatan Panus. Jembatan yang menghubungi Kota Depok-Bogor tepatnya di Jalan Tole Iskandar Depok, ternyata menyimpan misteri dan sejarah.

Jembatan yang berdiri pada tahun 1917 - 1918 ini, konon berasal dari bahan-bahannya campuran putih telur. Dan diarsiteki oleh Stefanus Leander, seorang pria kewarganegaran Belanda yang saat itu VOC masih berkuasa di Indonesia.

Nama Panus itu sendiri diambil dari nama Stefanus Leander. Jembatan yang memiliki lebar lima meter dan panjang 100 meter itu, pernah mempunyai peran tempat perlintasan, hingga peran jembatan tersebut tergantikan. Pemerintah Depok pada 1990 membangun jembatan baru yang terletak sekitar 30 meter sebelah utara Jembatan Panus.

Sejak didirikan jembatan baru (1990), Jembatan Panus mulai ditinggalkan. Bahkan, karena sudah tidak sering dilalui masyarakat umum, hanya warga perkampungan Poncol yang masih menggunakan jembatan ini, tersebar cerita-cerita bernuansa mistik.

Konon dari cerita mulut ke mulut, sering terjadi penampakan hantu sang kreator jembatan Panus. Stefanus dan istrinya dikabarkan masih sering terlihat melintasi jembatan itu.

Keberadaan hantu Opa Panus (sebutan Stefanus oleh warga depok) itu dari penjelasan warga setempat pada malam hari, masih lalu lalang di jembatan tersebut sambil membawa anjing putih kesayangannya.

Menurut salah satu warga sekitar jembatan Panus, bernama Ully, suaminya pada tengah malam, pernah melihat Hantu Stefanus, sosok pria berperawakan tinggi berkulit putih selayaknya orang Belanda, memakai topi khas Belanda dengan menenteng anjingnya.

"Kita sih sering lihat sosok Panus dijembatan itu tengah malam, suami saya saksinya yang lihat Opa Panus, pakai pakaian khas belanda, sama nenteng anjingnya," kata Ully yang tinggal tidak jauh dari jembatan itu.

Misteri lainnya lanjut Ully, warga setempat sering melihat sosok perempuan yang kerap menampakkan diri di jembatan tersebut, menurut kabar, sosok hantu wanita yang sering terlihat memakai baju merah adalah istri dari Stefanus. Stefanus menikahi seorang wanita warga asli Depok yang kemudian bunuh diri di jembatan bikinan suaminya sendiri.

Rumornya, Stefanus pulang ke Belanda ketika waktu itu kompeni Belanda diusir oleh tentara Jepang untuk meninggalkan Indonesia, karena putus asa, lalu istri Stefanus yang biasa disebut 'nyai' memutuskan untuk bunuh diri terjun bebas di jembatan itu.

"Rumornya 'nyai' bunuh diri di jembatan itu" ucap Ully.

Beberapa kali jembatan tua Panus didokumentasi oleh acara 'Percaya Nggak Percaya (PNP) dengan presenter acara Harsya Subandrio' di sebuah stasiun televisi.

Bahkah, salah satu paranormal dalam acara tersebut, Pak Leo mengakui, adanya keberadaan hantu Stefanus muncul bersama anjingnya di jembatan buatannya.

Ketika menjadi presenter PNP, beberapa kali kejadian aneh pun dialami Presenter PNP, Harsya saat syuting. "Ketika syuting di jembatan Panus, Depok, saya lihat sosok pria tanpa kepala sedang melambaikan tangannya,"kata Harsya.

Belum lagi, suara-suara bergumam yang di dengarnya selama syuting. Menurut Hasya selama syuting di jembatan Panus, ia acap kali mendengar suara dan bau tak sedap.

"Kadang saya melihat arwah gentayangan," ujarnya. Dalam penglihatannya, arwah itu berpenampilan sama seperti terakhir kali dia hidup.

"Jadi, kalau dia mati pakai baju merah, ya, saya lihat dia pakai baju merah.

" Mungkin itu pula yang menjadikan dia terlihat tegang selama syuting berlangsung. "Bagaimanapun, saya harus melindungi diri sendiri. Pokoknya, kalau punggung saya panas, keringat ngocor, itu artinya hantunya nggak welcome," ia menambahkan.


Jembatan Panus Dijadikan Pembuangan Mayat dan Pesugihan

Jembatan Panus juga pernah menjadi tempat pembuangan mayat korban pembunuhan. Menurut warga setempat, dari jembatan itu, ada dua lelaki tak dikenal melempar karung ke Sungai Ciliwung.

Penduduk setempat curiga karung itu berisi mayat. Kecurigaan itu semakin tebal setelah polisi memastikan cairan merah yang tercecer di jembatan adalah darah manusia. Darah itu menetes dari dalam karung yang dibuang dua lelaki tadi.

Selain itu, Jembatan Panus terkadang dipakai untuk pesugihan atau sajen untuk tumbal, kadang ada beberapa orang yang membawa sesajen seperti Kelapa dan baju untuk dibuang ke sungai jembatan Panus, warga menganggap mereka-mereka yang datang ke jembatan tersebut untuk memberikan pesugihan kepada mahluk halus. [rok]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.