Selasa, 2 September 2014 | 18:34 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Mahasiswi Akbid Garut Tewas di Tangan Oknum TNI
Headline
(ilustrasi) - ist
Oleh: Zainulmukhtar
metropolitan - Rabu, 13 Februari 2013 | 08:00 WIB

INILAH.COM, Garut - Tragis, kata itulah yang pas untuk menggambarkan penderitaan Shinta Mustika (19). Mahasiswi Akademi Kebidanan (Akbid) Karsa Husada Garut yang diketahui tengah mengandung itu, tak hanya kehilangan nyawanya, tetapi juga anak di dalam kandungan serta ibu tercintanya.

Keduanya diduga kuat merupakan korban pembunuhan dilakukan seorang oknum TNI yang bertugas di Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut.

Ketenangan warga Desa Sukawangi dan Desa Sukatani Kecamatan Cisurupan tiba-tiba terusik, saat dua wanita yang merupakan ibu dan anak ditemukan tewas mengenaskan di kebun warga, tepatnya di Kampung Panagaan Desa Sukawangi dan Kampung Babakan Kiara Rungkad Desa Sukatani, Senin (11/2/2013) sekitar pukul 17.30 WIB.

Kedua korban, yakni Popon (45), warga Kampung Saroja RT 02/03 Desa Mulyasari Kecamatan Bayongbong, dan anaknya, Shinta. Korban Popon ditemukan kali pertama di kebun milik Dede Ruslan, warga Kampung Panagan, sekitar pukul 17.30 WIB. Selang beberapa waktu kemudian ditemukan korban lainnya, Shinta, di lokasi berjarak sekitar 2 km dari korban pertama.

Popon ditemukan tewas di tempat dengan luka bekas cekikan pada bagian lehernya. Sedangkan Shinta meninggal dalam perjalanan menuju Puskesmas Cikajang.

Saat ditemukan Shinta diketahui masih bernapas dengan tubuh dipenuhi luka tusukan senjata tajam. Gadis malang ini mengembuskan napas terakhirnya dalam perjalanan menuju Puskesmas Cikajang untuk mendapatkan pertolongan.

Kuat dugaan, kematian Shinta dan ibu kandungnya,Popon, akibat pembunuhan berencana terkait kisah asmaranya bersama seorang oknum anggota TNI. Hal itu diperkuat dengan beredarnya pesan melalui short message service (SMS) yang dikirim Shinta untuk meminta tanggung jawab atas kehamilannya.

Melalui pesan singkat itu pula, diketahui korban tengah mengandung dengan usia kehamilan 8 bulan.

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan Polres Polres Garut pada Selasa (12/2) sekitar pukul 11.40 WIB diketahui, pelaku merasa tersinggung dan sakit hati atas isi SMS yang diterimanya dari korban.

Menyikapi permintaan pertanggungjawaban tersebut, pelaku dan korban lalu melangsungkan pertemuan di sebuah tempat yang disepakati di salah satu kebun warga milik Acip di Kampung Babakan Kiara Rungkad Desa Sukatani Kecamatan Cisurupan.

Dengan mengendarai sebuah sepeda motor, korban datang dengan diantar ibunya, Popon. Saat korban bertemu, pelaku sudah dihinggapi kekalutan dan kekalapan. Sehingga kemudian terjadi percekcokan antara pelaku dengan korban. Tanpa diduga, saat itu pelaku nekat menusuk korban dengan benda tajam hingga 21 kali tusukan. Korban pun tersungkur berlumuran darah.

Tak cukup dengan itu, pelaku juga menyambar ibu korban, Popon, dan melarikannya ke sebuah kebun milik Dede Ruslan di Kampung Panagan Desa Sukawargi, berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi pembunuhan pertama. Di sana, pelaku mencekik leher korban hingga tewas.

Seusai melakukan kedua aksi pembunuhan itu, pelaku langsung meninggalkan lokasi kejadian. Beruntung, karena identitasnya terbongkar, pelaku pun langsung diburu dan kini diamankan di Dandenpom Garut.

Kapolres Garut AKBP Umar Surya Fana mengaku, masih mendalami kasusnya. “Kami masih mendalami kasus pembunuhan ini, dan langsung melakukan olah TKP,” ujarnya singkat. [den]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
6 Komentar
risman welliandy argadinata. se
Senin, 20 Mei 2013 | 07:58 WIB
investigasi secara detail di tempat kejadian perkara tkp,investigasi tersebut dapat membentuk tim dari polri ,tni dan independen. Kasus tersebut dapat dibawa sampai ke mahkamah militer.
Yudha Putra
Rabu, 20 Maret 2013 | 02:17 WIB
Kasus ini akan di sidangkan pada tanggal 3 April 2013 di pengadilan Militer II-09 Bandung Jln Soekarno-Hatta 745 Bandung. info lbh lanjut http://www.dilmil-bandung.go.id/portal.
putri septiani
Jumat, 15 Februari 2013 | 15:40 WIB
tolong hukum dengan seadil adilnya, hukum .. oknum seperti itu hrus di adili !
muhamad adam
Kamis, 14 Februari 2013 | 08:13 WIB
Sungguh terlalu. Nyawa bayar nyawa.
bocah banjarsari
Rabu, 13 Februari 2013 | 21:48 WIB
tolong kepada pihak kepolisian dan denpom kasih hukuman yang setimpal kalo perlu hukum mati saya sangat setuju...rusaknya citra pelindung masyarakat akibat ulah okinum,,,,,
Engkus Juniardin
Rabu, 13 Februari 2013 | 09:46 WIB
tentunya harus diadili seadil adilnya.. kalau bisa hutang nyawa harus dibayar nyawa.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER