Jumat, 31 Oktober 2014 | 18:17 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Agama Jadi Syarat Utama Ulama Memilih Pemimpin
Headline
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agir Siroj - inilah.com/Ardhy Fernando
Oleh: Ahmad Farhan Faris
metropolitan - Rabu, 19 September 2012 | 20:38 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agir Siroj, bahwa boleh memilih pemimpin dari non Muslim, menuai kontroversi dari dalam tubuh NU.

Koordinator Program Cross Cultural Communication and Human Relation in Action (CCC Huria) Umar Halim mengatakan, banyak ulama yang ada di PBNU menolak pernyataan itu, dan menegaskan pernyataan itu bukan sikap resmi PBNU.

"Jadi, pernyataan Said Agil selaku Ketua Umum itu sebagai pribadi dan tidak bisa mewakili 'ulama NU secara keseluruhan meskipun beliau adalah Ketua Umum Tanfidiziyah PBNU. Hujjah dia (Said) masih tidak diterima oleh ulama-ulama NU seluruh Indonesia, apalagi tidak masuk spesifikasi dalam sidang Munas dan Konbes NU di Cirebon," jelasnya, di Jakarta, Rabu, (19/9/2012).

Umar melanjutkan, dari hasil survei yang dilakukan ketika Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon beberapa hari lalu menunjukkan bahwa 91 % ulama-ulama NU, rois maupun katib syuriah di tingkat wilayah seluruh Indonesia menyatakan tidak layak jika masyarakat yang memiliki penduduk mayoritas Muslim dipimpin oleh figur non-Muslim. "Hal ini berlaku tidak hanya di tingkat pusat dan provinsi saja, namun juga berlaku di tingkat kotamadya hingga kabupaten," ucapnya.

Ia menjelaskan beberapa alasan para ulama NU dalam mengambil sikap tersebut, pertama, karena ajaran Islam telah mengajarkan dan menyatakan demikian dan menyalahi nash agama ketika memilih pemimpin tidak dari umat Islam. Kedua, yang dipimpin mayoritas beragama muslim.

"Jadi bagaimana bisa seorang tokoh dapat mengerti dan memahami kebutuhan masyarakat mayoritas sementara dia dari golongan yang kecil. Kemudian alasan yang paling ekstrim yaitu di mana beberapa responden menyatakan bahwa ada misi agama ketika tokoh dari kalangan minoritas memimpin kelompok mayoritas. Pernyataan tersebut tentu berdasarkan atas pengalaman beberapa ulama yang hidup di daerah yang menjadi minoritas," jelasnya.

Ia juga mengatakan, setelah unsur agama sudah terpenuhi, syarat selanjutnya yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk dipilih adalah figur yang memiliki akhlak bagus, visi dan misi yang membela masyarakat serta tokoh yang sigap dalam menangani masalah yang dihadapi masyarakat. "Hasil penelitian ini bisa dijadikan acuan bagi masyarakat muslim ketika memilih seorang pemimpin. Karena, statemen seorang pemimpin tidak selalu mutlak menjadi keputusan organisasi, berbeda halnya jika statemen yang diucapkan berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat dengan pengurus-pengurus lainnya," tandasnya.

Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 11 orang dari pengurus syuriah (rais / katib) NU di tingkat wilayah atau provinsi. Sementara populasi penelitian dikelompokkan kategori Pengurus Wilayah Syuriah NU dari wilayah Barat, Tengah dan Timur.[bay]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER