Sabtu, 1 November 2014 | 08:44 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pengamat: Jakarta Beda dengan Solo
Headline
IST
Oleh: Anton Hartono
metropolitan - Selasa, 28 Agustus 2012 | 20:40 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Pertarungan calon Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 antara pasangan Fauzi Bowo-Nacrowi Ramli dengan pasangan Joko Widodo-Basuki T. Purnama cukup istimewa. Pasalnya, dalam perebutan kursi orang nomor satu di Jakarta, masing-masing calon gubernur, merupakan pemimpin daerah yang memiliki karakteristik yang berbeda.

Seperti diketahui, Fauzi Bowo saat ini menjabat Gubernur DKI Jakarta, sementara lawan politiknya, Joko Widodo menjabat Walikota Solo. Terkait hal tersebut, Dosen Antropologi Universitas Indonesia (UI), Iwan Meulia Piros mengatakan masing-masing calon memiliki jiwa pemimpin dengan karakter yang berbeda.

Yang jelas, menurut Iwan Meulia, memimpin kota Jakarta tidaklah semudah memimpin kota Solo. "Jakarta dan Solo adalah dua hal yang berbeda yakni Jakarta dihuni oleh masyarakat beragam etnis, sedangkan Solo merupakan kota yang didominasi oleh satu etnis tertentu," kata Iwan dalam diskusi bertemakan 'Budaya Kota DKI Jakarta dan Solo' di Kampus Jayabaya, Pulomas, Jakarta Timur, Selasa (28/8/2012).

Dijelaskannya, dilihat dari struktur budaya antara Jakarta dengan Solo memiliki karakter berbeda. Terlebih lagi Jakarta merupakan pusat pemerintahan Indonesia. "Etnisnya yang beragam, menjadikan kota Jakarta diisi orang-orang yang lebih cuek terhadap jalannya sistem pemerintahannya. Sehingga mereka kurang merasa memiliki," ujarnya

Hal itu, lanjutnya, yang menjadikan kesulitan tersendiri bagi pemimpin kota Jakarta dalam menjalankan program-programnya. Berbeda dengan kondisi budaya masyarakat yang tinggal di kota Solo yang didominasi satu etnis budaya. Sehingga dalam menjalankan program-program pemerintahannya dirasakan lebih mudah berjalan ketimbang menjalankan pemerintahan di Jakarta.

Meskipun begitu, dirinya berharap kepada siapapun kandidat yang terpilih harus lebih sering turun ke lapangan melihat kondisi warganya. Dengan begitu, sang pemimpin akan mengetahui keinginan warganya.

Terkait permasalahan yang dialami warga Jakarta seperti sampah, banjir dan kemacetan, Iwan mengaku tidak yakin siapapun yang memimpin Jakarta akan mampu menyelesaikan semua permasalahan dalam lima tahun.

"Kemungkinan terbesar yang dapat diselesaikan dalam lima tahun ke depan adalah permasalahan sampah. Sedangkan permasalahan banjir dan macet tidak mudah untuk diatasi dalam waktu singkat," tandasnya.

Sementara itu Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jayabaya, Akbar Mulyo menanggapi permasalahan Jakarta tidak bisa diselesaikan dalam satu periode jabatan. "Siapapun gubernurnya, grand design strategi tidak bisa diselesaikan satu periode jabatan, ditambah rumitnya permasalahan yang ada," tambahnya.[dit]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER