Senin, 24 November 2014 | 03:52 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Jangan Sejajarkan Ahok dan Kwik Kian Gie
Headline
inilah.com
Opini: Derek Manangka
metropolitan - Selasa, 28 Agustus 2012 | 18:15 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM.Jakarta - Semenjak Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama ditampilkan selaku calon wakil gubernur DKI mewakili Partai Gerindra, upaya meyakinkan publik bahwa bekas anggota DPR-RI dari Partai Golkar itu seorang nasionalis sejati, dirasakan sangat kuat.

Buku biografinya yang merekam sejumlah prestasi dan karir politiknya yang penuh warna warni, ditambah penampilannya dalam talk show di televisi dibuat sedemikian menarik. Sehingga masyarakat bisa dengan mudah menarik kesimpulan sendiri.

Empati dan simpati serta dukungan pun mengalir. Yaitu Ahok misalnya merupakan warga negara Indonesia keturunan China yang patut menjadi birokrat di ibukota NKRI. Semua usaha itu tidak keliru. Terutama dalam rangka membangun semangat anti-primordialisme, sektarian, hal-hal yang selalu menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan nasional.

Usaha membentuk citra positif bagi Ahok itu patut dihargai. Agar para warga negara Indoneia keturunan China tidak terus menerus merasa dimarjinalkan di negara yang menganut ideologi Pancasila ini. Partisipasi dalam bidang politik, makin hari makin mereka minati. Tidak terbatas pada dagang dan binis melulu.

Namun yang kurang tepat dan agak berlebihan dari usaha itu adalah, terlalu cepat digiring untuk membuat kesimpulan. Apalagi kemudian dengan cara pandang yang kurang luas, lalu mulai mensejajarkan Ahok dengan tokoh-tokoh Indonesia keturunan China yang lebih senior. Sebut saja seperti politisi PDI-Perjuangan, Kwik Kian Gie.

Bagi siapa yang mengikuti sejarah perjalanan Kwi Kian Gie, usaha penyamaan itu, justru dapat merugikan Ahok sendiri. Ahok pun mungkin akan malu, karena belum apa-apa, dia sudah disanjung seperti itu. Kwik Kian Gie sendiri mungkin akan tersenyum kecut.

Sebab jelas usaha mensejajarkan Ahok dengan Kwik Kian Gie merupakan penyesatan. Disamping itu usaha tersebut dapat menurunkan kualitas perjuangan yang sudah ditorehkan oleh Kwik Kian Gie bagi bangsa dan negara Indonesia.

Kwik Kian Gie memang pernah menduduk posisi yang cukup strategis dalam Kabinet Abdurrahman Wahid (Gus Dur) maupun di era Presiden Megawati Soekarnoputri. Kwik Kian Gie direkrut menjadi Menteri Koordinator Perekononiam dan Kepala Bappenas (Badan Perencana Pembangunan Nasional).

Tetapi sebelum mencapai posisi itu, di masyarakat luas Kwik Kian Gie sudah dikenal memiliki kualitas pemikiran di bidang yang sama dengan para teknokrat yang dipercaya pemerintahan Orde Baru. Kwik juga memiliki Institut Bisnis yang dosen dan para mahasiswanya berasal dari berbagai komunitas di masyarakat.

Pada era Soeharto, Kwik seorang pengeritik keras bagi pembangunan Chandra Asri, pabrik untuk industri hulu bagi bahan plastik, milik Prayogo Pangestu. Analisa dan kritik Kwik Kian Gie terhadap masalah-masalah ekonomi dan pembangunan nasional, sering membuat para Menteri dari kelompok Mafia Berkeley, tidak semau mereka mengeluarkan kebijakan.

Di saat Presiden Soeharto bersahabat dengan para konglomerat yang mayoritas dari mereka merupakan warga keturunan China, Kwik Kian Gie tidak punya hambatan sama sekali melakukan koreksi terhadap berbagai kebijakan para konglomerat itu.

Intinya, ketika untuk pertama kalinya (1999) Kwik Kian Gie menjadi bagian dari birokrat nasional, ia sudah memiliki rekam jejak yang cukup panjang sebagai tokoh nasional yang berjuang dengan segala risiko.

Perjuangan Kwik yang terbilang penuh risiko adalah ketika ia memilih menjadi Kepala Litbang (Penelitian dan Pengembangan) Partai Demokrasi Indonesia sebelum nama partai ini berubah menjadi PDI-P.

Padahal pada saat itu, bukan hanya Litbang partai yang dianggap sebagai tempat yang tidak berguna. Kepala-Kepala Litbang di berbagai lembaga pemerintahan pun sering disepelekan. Litbang sering dipelesetkan sebagai Sulit Berkembang.

Nah di PDI, yang saat itu masih dijuluki partai gurem, partai miskin, Kwik tidak langsung duduk dalam posisi pengambil keputusan. Sebab niat Kwik memimpin departmen Litbang partai adalah untuk membesarkan partai nasionalis ini. Melalui penelitian, Kwik menyumbang pemikiran-pemikiran kepada partai, apa dan bagaimana yang harus dilakukan agar partai gurem ini bisa bermanfaat bagi bangsa.

Sekalipun Kwik sudah dikenal memiliki kemampuan tersendiri terutama dalam menganalisa masalah-masalah ekonomi dan pembangunan nasional, tetapi ia tetap tampil secara terukur.

Ia berbicara bebas, kritis, siap beradu argumentasi dan yang paling menarik adalah, Kwik tidak pernah merasa takut untuk disebut "China". Kwik yang menikah dengan wanita Belanda, tidak punya inferior complexity.

Pada 30 September 2004, malam menjelang 1 Oktober 2004, Kwik membuat sejarah. Torehan sejarah ini, tidak banyak tahu. Ia menolak perintah, Megawati Soekarnoputri, atasannya, Ketua Umum PDI-P dan saat itu Mega masih menjabat sebagai Presiden RI.

Mega menghendaki agar dalam Sidang Umum MPR 1 Oktober yang akan memilih pimpinan MPR-RI untuk masa jabatan 2004-2009, Kwik Kian Gie menjadi calon untuk posisi tersebut. Tapi Kwik menolak. Sebab Kwik tahu, Sekjen PDI-P pada waktu itu, Soetjipto (almarhum), sangat menghendaki jabatan tersebut.

Sehingga akhirnya terjadilah pertarungan antara Soetjipto yang juga Ketua DPD PDI Jatim dengan Hidayat Nur Wahid. Pertarungan akhirnya dimenangkan Hidayat Nur Wahid yang saat itu mewakili Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Sejarah" yang dibuat Kwik Kian Gie, sengaja diungkap pada tulisan ini untuk memberikan gambaran, bahwa Kwik dan Ahok memang sama-sama warga negara Indonesia keturunan China. Tapi kesamaan itu, tidak serta merta membuat keduanya memiliki kualitas yang sama.

Ada sahabat yang berani bertaruh, kalau sosok yang dipilih Prabowo Subianto, pendiri Partai Gerindra untuk posisi cawagub DKI, seorang figur yang memiliki kualitas dan kaliber seperti Kwik Kian Gie, ceritera dan reaksinya akan lain. Suasana Pemilukada DKI putaran kedua, boleh jadi tidak akan "sepanas" seperti saat ini.

Kita harus berani mengakui, terbentuknya situasi "panas" dalam politik, antara lain karena para politisi kita masih banyak yang tidak mau berkata sesuai hati nurnainya. Politisi kita belum siap untuk bersikap: tidak ada dusta di antara kita! [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA