Sabtu, 25 Oktober 2014 | 14:01 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-46
Orang Tionghoa yang Jadi Bupati
Headline
inilah.com/Ardhy Fernando
Oleh: Iwan Purwantono
metropolitan - Senin, 16 Juli 2012 | 10:00 WIB
Berita Terkait

SIAPA, sih, Ahok? Banyak orang Jakarta tak mengenal pria kelahiran 29 Juni 1966 ini. Tapi, bagi warga Belitung Timur, nama Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, sudah tak asing. Maklum, ia pernah menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2010.

Ahok lahir di Manggar, Belitung Timur, dari pasangan Indra Tjahaja Purnama (Zhong Kim Nam) dan Buniarti Ningsing (Bun Nen Caw). Ia memiliki nama Tionghoa, Zhong Wan Xie.

Masa kecil Ahok banyak dihabiskan di ‘Kampung Laskar Pelangi’, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, sampai bangku SMP. Kemudian, Ahok merantau ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah. Tamat SMA, ia masuk Fakultas Teknologi Mineral jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti.

Berbekal ijasah sarjana Geologi yang diperoleh pada 1989, ia pulang kampung. Ia berwiraswata, dengan mendirikan CV Panda yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan. Dua tahun berlalu, Ahok melanjutkan kuliah S-2 di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya, Jakarta.

Seperti warga keturunan Tionghoa kebanyakan, dagang juga pernah ia geluti sebelum ia akhirnya terjun ke dunia politik. Ia bergabung ke dalam Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB), yang didirikan almarhum Sjahrir dan dipercaya menjadi Ketua DPC Partai PIB Kabupaten Belitung Timur.

Berkutat di politik, Ahok pun tergiur meraih jabatan politik. Kursi bupati Belitung Timur ia incar lewat Pemilukada di kabupaten itu dengan menggandeng Khairul Effendi dari Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan (PNBK)sebagai pasangannya.

Di luar dugaan, duet Ahok-Khairul menang karena didukung 37,13 % suara. Hasil ini cukup mengagetkan, karena mayoritas warga Belitung Timur beragama Islam, padahal Ahok penganut Kristen. Rupanya keberagaman agama sudah lumrah di sana sehingga ia dengan mudah menduduki kursi bupati. Kemenangannya ini sekaligus mencatatkan rekor sebagai warga etnis Tionghoa pertama yang dipercaya menjadi Bupati Belitung Timur.

Di awal pemerintahannya, pemerintah Belitung Timur membebaskan biaya pendidikan sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas negeri.Tidak putus sampai SMA, belasan siswa berprestasi juga dikirim untuk melanjutkan belajar gratis di Universitas Trisakti, Jakarta, dan Universitas Bangka-Belitung. Setiap siswa mendapat subsidi Rp 1 juta per bulan untuk yang di Jakarta, dan separuhnya untuk di Bangka.

Dalam hal jaminan kesehatan masyarakat, Ahok juga membuat gebrakan. Ia menggunakan taktik dagang supaya warganya bisa memperoleh jaminan kesehatan. Ia rela tawar-menawar premi asuransi kesehatan dengan PT Askes. Hasilnya, pemerintah cukup membayar separuh dari harga normal untuk menopang biaya kesehatan 50 ribu warganya. Adapun komisi dari perusahaan itu ia pakai untuk tambahan dana puskesmas dan tunjangan dokter.

Ahok memotong biaya perjalanan dinasnya, dari Rp 1 miliar per tahun menjadi seperlimanya. Pos yang sama untuk kepala dinas dikorting. Untuk perjalanan ke Jakarta, hanya dapat uang tiket kapal, bukan pesawat.

Selain menganggarkan porsi 40% untuk kesehatan dan pendidikan, Ahok juga menyediakan dana untuk warga yang meninggal. Dengan syarat membuat akta kematian, keluarga yang ditinggalkan mendapat santunan Rp 500 ribu. Subsidi pembangunan rumah pun disediakan untuk keluarga tak mampu.

Dalam memimpin Belitung Timur, Ahok dikenal tegas. Menurut para pegawai di wilayah itu, apabila mereka ketahuan kongkow pada jam kerja langsung mendapat sanksi, ditahan kenaikan pangkatnya. Di sisi lain, Bupati memberi honor untuk para ketua RT Rp 300 ribu, Ketua Dusun Rp 640 ribu, dan Kepala Desa Rp 2 juta per bulan.

Baru satu setengah tahun Ahok menjabat bupati, Tiga Pilar Kemitraan, sebuah kelompok yang dibentuk oleh Masyarakat Transparansi Indonesia, Kadin, dan Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara, mendaulatnya sebagai satu di antara dua Tokoh Antikorupsi 2006.

Tahun 2007, Ahok mengikuti Pemilukada Bangka Belitung, mengincar kunci gubernur. Kali iniia gagal. Ia pun hijrah ke Jakarta menjadi anggota Komisi II DPR asal Partai Golkar periode 2009-2014.

Ketika PDI Perjuangan mencalonkan Wali Kota Solo, Jokowi, sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, Partai Gerindra menawari Ahok untuk mendampinginya. Ia bersediadan kini bersama Jokowi tengah menunggu putaran kedua Pemilukada DKI Jakarta.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di Majalah InilahREVIEW edisi ke-46 yang terbit Senin, 16 Juli 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
hadi
Selasa, 17 Juli 2012 | 21:43 WIB
hebat Ahok! lanjutkan! semoga menang jadi gubenur Jakarta
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER