Kamis, 27 November 2014 | 17:16 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-46
Dari Bantaran Kali Menuju DKI-1
Headline
inilah.com
Oleh: Vinsensiu Segu
metropolitan - Senin, 16 Juli 2012 | 09:00 WIB
Berita Terkait

NAMA lengkapnya Joko Widodo. Di masa kecilnya, teman-temannya sering memanggil Joko. Menginjak dewasa, banyak orang kemudian memanggilnya Jokowi. Nama inilah yang hingga kini menjadi popular.

Lahir di Solo, 21 Juni 1961, dari pasangan Notomiharja dan Sujiatmi, sejak kecil Jokowi hidup dalam suasana serba susah. Bersama orang tua dan tiga saudara perempuannya, Jokowi harus berpindah dari satu bantaran kali ke bantaran kali lainnya. Mengapa bantara kali? Karena itulah lahan yang murah atau bahkan mungkin gratis untuk dihuni.

Karena tidak mampu membeli rumah, Notomiharjo terpaksa memboyong istri dan anak-anaknya untuk menetap sebagai penghuni liar di pasar kayu dan bambu Gilingan, yang berada di selatan bantaran Kali Anyar. Di sinilah Notomiharjo memulai usaha berjualan kayu gergajian untuk bahan baku perabot rumah tangga.

Kemiskinan adalah temannya yang paling akrab. Ia amat tahu bagaimana rasanya hidup miskin. Pengetahuan itu tentu tidak ia peroleh dari baca buku atau nonton TV, tetapi ia merasakan dan menjalaninya sejak kecil.

Bapaknyaadalah seorangpenjual kayu di pinggir jalansehingga ia juga akrab dengan dunia perkayuan. Sebagai anak miskin, tentu ia juga harus bekerja membantu orang tuanya. Menggotong, memilih, mengumpulkan kayu, atau apa saja yang berhubungan dengan kayu yang dijual bapaknya.

Lingkungan kedua yang akrab dengannya adalah pasar. Di tempat jual beli inilah ia juga mengadu nasib, tak sekadar untuk mencari uang jajan, tapi mengais-ngaisnya untuk bekal hidup. Di sinilah mata si kecil Jokowi menyaksikan aneka romantika pasar. Mulai dari pedagang yang dikejar-kejar petugas ketertiban hingga melihat bagaimana si perkasa menekan si lemah demi mendapatkan lapak untuk berjualan.

Si kecil Jokowi prihatin melihatnya, “Mengapa kota begitu kejam untuk manusia? Mengapa kota tidak ramah untuk penguninya?” begitu ia berpikir saat itu.

Di pasar, si kecil Jokowi bukanlah seperti anak-anak kota lainnya yang suka mengantar sang ibu belanja. Tetapi, ia berdagang apa saja yang bisa ia jual. Hasilnya, tentu untuk biaya sekolah. Ia mengumpulkan receh demi receh dan ia simpan dalam celengan ayam yang terbuat dari gerabah.

Di waktu luang, ia beralih profesi menjadi tukang ojek payung, membantu membawakan belanjaan ibu-ibu, hingga menjadi kuli panggul. Ya, pekerjaan kasar yang benar-benar mengandalkan otot dan kekuatan tubuh.

Di usia 12 tahun, Jokowi belajar menggergaji kayu. Belajar bagaimana memperlakukan kayu gelondongan hingga balok-balok untuk dijadikan mebel. Tangannya sempat terluka terkena gergaji. Tetapi ia senang saja menjalaninya. Lama kelamaan ia pun terampil memainkan gergaji, membentuk kayu menjadi apa saja. Dalam sekejap, ia bukan hanya tahu atau bisa, melainkan mumpuni di bidang perkayuan.

Sejak saat itulah ia tertarik pada kayu dan berhasrat untuk menyelami ilmunya. Lalu ia berangkat ke Yogyakartadan diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Jurusan Kehutanan.Tahun 1985, Jokowi lulus dari UGM. Tapi, ia masih menjadi tukang gergaji kayu. Hanya saja, ia lebih punya wawasan.

Ia kemudian mendalami mebeldan mulai mendirikan usaha di bidang ini. Modal, ia peroleh dari hasil menggadaikan rumah kecil satu-satunya milik bapaknya. Dengan uang itulah ia membangun sebuah bengkel mebel. Dan, ia berhasil. Jokowi menangis ketika melihat pekerja-pekerjanya bisa makan.

Suatu hari, Jokowi kedatangan orang Jerman bernama Micl Romaknan, seorang penggemar kayu. Supaya gampang dan terdengar lebih akrab, ia tidak memanggilnya Joko, melainkan Jokowi diambil dari nama pasaran orang Eropa Timur, Djokovich. Dari Rokmanan inilah nama Jokowi kemudian menjadi popular.

Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontainer dan ia pun menjelajah Eropa. Tapi, ia tidak foya-foyadi sana, sebaliknya ia belajar memahami kota dan penghuninya. Kenapa kota-kota di Eropa sangat manusiawi? Begitu pertanyaan di benaknya. Akhirnya, suami dari Iriana ini menemukan jawabannya bahwa ruang kota dibangun dengan bahasa kemanusiaan, bahasa kerja, dan bahasa kejujuran.

Tiga bahasa itulah yang menjadi inspirasi dan modalnya ketika menjabat sebagai Wali Kota Solo. Dan, ia berhasil. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami kemajuan pesatdi berbagai bidang. Ia berpikir kota Solo harus mempunyai roh, yakni roh untuk memacu semangat warganya agar ikut membangun. Ia pun menyetujui “Solo: The Spirit of Java”menjadi slogan untuk kota Solo.

Sosok kurus Jokowi ternyata berbanding terbalik dengan karakter kepemimpinannya. Dibandingkan pemimpin di kota-kota lain di Indonesia, Jokowi terbilang progresif, berorientasi pada kemajuan. Ia tegas, namun cara yang ia tempuh sangat lembut. Nyaris tidak ada gesekan yang berarti akibat kebijakan yang ia terapkan.

Misalnya, saat merelokasi pedagang barang bekas di di Taman Banjarsari, tak ada penentangan dari pedagang. Padahal biasanya di kota-kota lain, kalau tidak terjadi bentrokan, pasti bakar-bakaran sebagai wujud protes. Jokowi bukanlah wali kota asal jadi, ia mampu memindahkan mereka dan menyulap lahan bekas pedagang itu menjadi hijau, kembali kepada fungsi awalnya sebagai lahan hijau.

Kuncinya, komunikasi yang rutin dengan pedagang serta masyarakat dan pahami apa keinginan mereka. Maka,tak mengherankankalau Jokowi mampu menjabat Wali Kota Solo dalam dua periode, 2005-2010 dan 2010-2015.

Kini, ayah tiga anakini hampir menduduki kursi Gubernur DKI Jakarta. Pertanyaannya, jika dalam putaran dua nanti Jokowi menang, mampukah ia memimpin Jakarta? Banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi, apa kata Jokowi.

“Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja,dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan.”

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di Majalah InilahREVIEW edisi ke-46 yang terbit Senin, 16 Juli 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER