Jumat, 31 Oktober 2014 | 14:38 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Hasil Hitung Cepat Pemilukada DKI
Jokowi Benamkan Mimpi Saingannya
Headline
Joko Widodo-Basuki Tjahaja - inilah.com/Ardy Fernando
Oleh: R Ferdian Andi R
metropolitan - Rabu, 11 Juli 2012 | 17:53 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Pemilu Kepala Daerah DKI Jakarta membuat kejutan di luar prediksi banyak pihak. Hitung cepat berbagai lembaga riset menempatkan kandidat Joko Widodo-Basuki Tjahaja unggul dibanding lima kandidat lainnya.

Hasil hitung cepat (quick count) berbagai lembaga riset politik menempatkan pasangan ini unggul dibanding lima kandidat lainnya. Jokowi- Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memperoleh suara di kisaran 40 persen lebih. Sedangkan kandidat incumbent Fauzi Bowo-Nachrawi Ramli di kisaran 30 persen.

Perolehan ini di luar prediksi sejumlah lembaga riset yang sebelumnya menempatkan pasangan Jokowi-Ahok di nomor urut dua setelah Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Akibat riset itu pula, kandidat incumbent ini mengkampanyekan pilkada satu putaran.

Meski bukan hasil resmi dari KPU Provinsi DKI Jakarta, hasil hitung cepat ini setidaknya gambaran dari pilihan publik Jakarta terhadap kandidat gubernur DKI. Jokowi-Ahok pada akhirnya memberi kejutan dalam politik Ibukota ini.

Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait menyebutkan perolehan suara Jokowi-Ahok merupakan cerminan dari aspirasi masyarakat Jakarta yang menginginkan perubahan. "Ini merupakan wujud aspirasi masyarakat yang menginginkan perubahan" kata Maruarar di Jakarta, Rabu (11/7/2012).

Maruarar melanjutkan perolehan Jokowi dalam Pemilukada DKI ini karena dinilai mampu membawa perubahan serta bisa menjaga kebhinekaan warga Jakarta yang heterogen baik suku, agama, dan ras.

Profil Jokowi yang tampil sederhana dan bersahaja pada akhirnya mampu menarik suara pemilih Jakarta hampir tersebar di semua wilayah di Jakarta. Khusus wilayah Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur, Jokowi unggul dibanding kandidat lainnya.

Jika merujuk latar belakang Jokowi sebagai Walikota Solo selama dua periode, ia dikenal cukup piawai menata kota Solo terutama menyangkut penataan kota seperti persoalan Pedagang Kaki Lima (PKL), tanpa adanya kekerasan antara aparat Satpol PP dengan para pedagang di Taman Banjarsari yang nyaris tidak ada gejolak.

Dia juga memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik hingga melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka yang disiarkan televisi lokal dengan masyarakat. Peran Jokowi di Solo juga mampu membetot kalangan luas. Seperti tagline "Solo: The Spirit of Java" menjadi salah satu hasil besutan Jokowi, sehingga menjadikan Solo sebagai kota yang diperhitungkan.

Sedangkan Ahok yang menjadi Bupati Belitung Timur (2005-2010) ini dikenal sebagai sosok bersih. Pada 2007, bupati pertama dari keturunan Tionghoa ini mendapat penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi dan Gerakan Tiga Pilar Kemitraan.

Politisi yang kini menyebrang ke Partai Gerindra ini juga membuat kebijakan fenomenal dengan menggratiskan biaya pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi kepada seluruh warga Belitung Timur.

Pilkada DKI Jakarta pada akhirnya membuktikan Jokowi-Ahok mampu menarik simpati publik. Isu perubahan mampu membenamkan mimpi lima calon lainnya. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER