Senin, 24 November 2014 | 07:45 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Efek Pilkada DKI, HMI Ikut Memanas
Headline
IST
Oleh: Ahluwalia
metropolitan - Jumat, 8 Juni 2012 | 21:11 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta seperti terbakar api dalam kaitan Pilkada DKI yang bakal dilaksanakan sebentar lagi. Ada apa gerangan?

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba sekelompok oknum mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Komisariat HMI se-Jakarta yang kemarin melaksanakan Aksi di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut agar lembaga antikorupsi itu memeriksa kandidat incumbent alias Fauzi Bowo (7/6).

Menurut Ketua Umum HMI Cabang Jakarta Timur, Renaldy Permana, kelompok yang kemarin melakukan aksi itu bukanlah HMI secara organisatoris. Mereka hanya mengklaim seolah-olah HMI. Padahal mereka tidak mengikuti mekanisme berorganisasi yang sah. Mana yang benar?

Dalam soal ini, hendaknya semua pihak di HMI Jakarta berdialog dengan kepala dingin. Mencari solusi tanpa harus membakar diri ke dalam kobaran api. Memang ada kejanggalan terhadap aksi tersebut yang perlu direnungkan.

Pertama. tidak adanya proses konsolidasi secara intensif kepada seluruh komisariat se-Jakarta dan tidak adanya kordinasi kepada tingkatan cabang selaku struktural di atas komisariat. Kedua, aksi tersebut terkesan spontan dan terlalu reaktif mengingat momen Pemilukada yang akan di selenggarakan 11 juli nanti.

Ketiga, secara kuantitas massa atau perwakilan komisariat se-Jakarta dalam aksi kamis 7 Juni di KPK tersebut tidak mewakili jumlah komisariat di Jakarta yang berjumlah 40. Keempat, HMI se-Jakarta selalu menjaga keindependensian organisasi terkait momentum Pemilukada DKI Jakarta.

Bagi kalangan HMI yang sudah bergerak ke KPK untuk menuntut sang incumbent (Foke) itu, barangkali struktur HMI Cabang Jakarta sudah terlalu kaku, tidak bisa menampung aspirasi para kadernya, lamban merespon keadaan dan terlalu ketat untuk didorong turun ke jalan.

Sementara bagi elite HMI Cabang Jakarta, tahap prosedural yang berliku dan bertele-tele, musti dilalui sesuai kaidah dan mekanisme organisasi, Walhasil, benturan kedua pihak tak terelakkan. Semua ini sudah jadi tanda-tanda zaman.

Karena itu, dengan kepala dingin, mustinya seluruh stakeholder HMI Jakarta berdialog, diskusi, melakukan refleksi diri dan olah rasa dalam suasana hangat, terbuka dan biasa-biasa saja. Tak perlu emosi, apalagi marah.

Independensi merupakan keharusan, namun bukan berarti membiarkan maraknya kemungkaran. Para analis mencium bahwa politik uang dalam pilkada DKI diduga sudah merasuki RT/RW dan ruang keluarga. Politik kian pengap dan masyarakat merasa situasi mulai gelap.

Dalam kondisi begini, apakah HMI (dan Kelompok Cipayung Plus) harus diam saja? Barangkali, sejarah yang menjawabnya. [berbagai sumber]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA