Find and Follow Us

Rabu, 24 April 2019 | 03:09 WIB

Atasi Kemacetan di Jakarta

Kebutuhan Transportasi Makro di Jakarta, Mendesak

Oleh : Wahyu Praditya Purnomo | Kamis, 15 Maret 2012 | 22:30 WIB
Kebutuhan Transportasi Makro di Jakarta, Mendesak
inilah.com/Wirasatria

INILAH.COM, Jakarta - Kemacetan tampaknya telah menjadi momok bagi warga Ibukota. Program penerapan pola Transportasi Makro melalui pengembangan angkutan umum massal dirasa sudah cukup mendesak.

Dalam mengurai kemacetan, saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, telah menerapkan angkutan umum massal berbasis bus rapid transit (BRT). Dengan dioprasikannya busway di 11 koridor, diharapkan masyarakat dapat beralih dari kendaraan pribadi ke kendaran umum. Busway yang mampu mengangkut 300 ribu penumpang per hari dengan 10 koridornya

Tak hanya itu, kedepannya, angkutan umum massal berbasis mass rapid transit (MRT) yang saat ini masih dalam tahap kajian, juga akan dioprasikan. Diharapkan, pengoprasian MRT mampu mengangkut 412 ribu orang per hari.

Pengoperasian dua angkutan umum massal tersebut berkaca dari pertambahan kendaraan yang kian hari, kian tinggi jumlahnya. Data yang didapat dari Pemprov DKI, pertambahan kendaraan bermotor rata-rata per hari mencapai 256 kendaraan roda empat dan 1.200 kendaraan roda dua, per harinya.

Sementara pertambahan kendaraan roda empat di Jabodetabek diperkirakan mencapai
400 kendaraan per hari, dan roda dua mencapai 2.000 kendaraan per hari. Sedangkan road ratio di Jakarta sampai saat ini baru mencapai 6,2 persen.

Pakar Transportasi dari Universitas Indonesia (UI), Rudi Tambunan, mengatakan keberadaan transportasi massal, merupakan kebutuhan mendesak bagi Jakarta. Sebab, jikalau Jakarta tidak membenahi jaringan transportasi massalnya maka kemacetan total benar-benar akan terjadi di jalan-jalan Ibu Kota.

Dijelaskannya, menciptakan angkutan umum massal berbasis MRT merupakan langkah yang tepat. Apalagi menurutnya, saat ini untuk mengurai kemacetan di Jakarta, tak dapat mengandalkan busway semata. "Coba bila dibangun MRT, maka daya angkut kedua transportasi massal ini bisa mencapai 800 hingga 1 juta orang. Ini bisa mengurangi beban jalan," katanya.

Pandangan ini dikemukakannya berdasarkan hasil penelitian konsultan Jerman tentang Jakarta Metropolitan Area Transportation Study (JMATS) pada tahun 1973. Konsultan ini mengatakan jika Jakarta mau lebih panjang umurnya, maka harus mulai membangun transprotasi massal MRT atau BRT untuk mengalihkan kendaraan pribadi ke angkutan umum massal.[dit]

Komentar

Embed Widget
x