Find and Follow Us

Kamis, 14 November 2019 | 02:51 WIB

Ada Hepatitis-Chikungunya, Depok Lomba RW Terkotor

Selasa, 10 Januari 2012 | 15:13 WIB
Ada Hepatitis-Chikungunya, Depok Lomba RW Terkotor
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Depok - Pemerintah Kota Depok akan melombakan RW terkotor.

"Lomba tersebut dimaksudkan agar RW dengan predikat terkotor dapat dilakukan pembinaan dan difasilitasi untuk menjadi RW terbersih di kemudian hari," kata Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail di Depok, Selasa (10/1/2012).

Selain dilombakan RW terkotor, Pemkot Depok juga mengadakan lomba kebersihan rumah ibadah semua agama, gedung perkantoran, RW, dan lembaga pendidikan.

Ia mengatakan lomba tersebut untuk menciptakan lingkungan Depok yang bersih dan sehat agar terhindar dari berbagai macam penyakit menyerang manusia.

Seperti diketahui dalam beberapa pekan terakhir ini wilayah Depok diserang berbagai penyakit, baik itu Chikungunya ataupun hepatitis yang telah menyerang ratusan warga Depok.

"Pola hidup bersih harus terus diterapkan agar terhindar dari berbagai macam penyakit," katanya.

Menurut dia dengan tingginya curah hujan akhir-akhir ini, maka diimbau agar masyarakat waspada terhadap demam berdarah dan chikungunya yang sedang mewabah.

Sementara itu Wakil Walikota Depok Idris Abdul Somad menuturkan Depok baru ditargetkan mendapat Piala Adipura pada 2013. "Pada 2012 pihaknya baru menargetkan pembentukan lembaga pengolahan sampah (LPS) tingkat kota," katanya.

Wakil Wali Kota mengatakan Kota Depok baru bisa menangani sampah sebanyak 1.650 meter per segi atau baru 38 persen. Menurutnya, pertumbuhan penduduk kota Depok mencapai 3,5 per tahun.

Ia menambahkan, setiap warga Depok dalam sehari menghasilkan sampah sebanyak 1,6 liter per hari dan jumlah sampah tahun 2011 mencapai 4.250 meter persegi.

"Kita baru bisa menangani sampah sebanyak 38 persen. Jadi, dalam menjaga kebersihan dan mengelola sampah juga tugas bersama," ujarnya.

Sementara itu, salah satu anggota tim adipura Depok, Syahroel Polontalo mengatakan saat ini penilaian adipura semakin ketat, karena berbeda dengan tahun sebelumnya dalam kriteria penilaian titik pantau pada semua wilayah.

Terlebih lagi, lanjutnya, tim penilai dilakukan dengan cara persilangan seperti tim dari daerah Sumatera sebagai juri di Jawa dan begitu juga sebaliknya. [inilahjabar.com]

Komentar

Embed Widget
x