Find and Follow Us

Sabtu, 14 Desember 2019 | 06:52 WIB

Empat Prioritas Kerja Dirut PT PAM yang Baru

Oleh : Wahyu Praditya Purnomo | Jumat, 23 Desember 2011 | 19:10 WIB
Empat Prioritas Kerja Dirut PT PAM yang Baru
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Setelah dilantik sebagai Direktur Utama (Dirut) PT PAM Jaya, Sri Widayanto Kaderi, mempunyai empat prioritas kerja yang akan segera diwujudkannya.

Sri Widayanto menegaskan, empat program yang akan dilakukannya setelah dipercaya menjabat pimpinan PT PAM Jaya, diantaranya menyelesaikan masalah PAM Jaya untuk meningkatkan kinerjanya dalam melayani warga Jakarta melalui kedua mitra swastanya.

Prioritas lain adalah mencari sumber air lainnya sehingga tidak tergantung pada Tangerang dan Waduk Jatiluhur, kemudian, meningkatkan ketahanan air di Jakarta yang hingga kini baru mencapai 2 persen.

Sedangkan program terakhir yaitu menurunkan tingkat kehilangan air atau non revenue water (NRW) yang saat ini masih tinggi yaitu mencapai 44 persen.

"Keempat program ini harus segera dikerjakan dan diselesaikan sebagai perwujudan tujuan dari MDGs. Memang berat, tapi dengan dukungan seluruh staf PAM Jaya, dua mitra swasta dan rekan media, saya rasa keempatnya bisa dilaksanakan dengan baik. Karena air bersih harus selalu tersedia dan datang ke Jakarta untuk melayani warganya," jelas Sri.

Sementara untuk pengolahan air bersih, lanjut Sri, Jakarta memiliki 13 sungai yang airnya bisa diolah kembali menjadi air bersih, dengan memakai teknologi tinggi seperti ultrafiltrasi dan membrane.

"13 sungai di Jakarta, airnya bisa diolah menjadi air bersih, dengan memakai teknologi tinggi seperti ultrafiltrasi dan membrane," ucap Sri.

Sri yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Teknik PAM Jaya mengatakan, terkait dengan rebalancing Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Palyja yang belum selesai, dirinya menegaskan PAM Jaya akan terus melanjutkan proses rebalancing tersebut.

Proses rebalancing PKS dengan Palyja harus segera diselesaikan, kalau tidak maka Pemprov DKI dan warga Jakarta akan menanggung beban yang sangat berat. Diantaranya, tariff yang akan naik hingga Rp 22 ribu dan defisit yang mencapai Rp 10,5 triliun.[bay]

Komentar

x