Sabtu, 25 Oktober 2014 | 08:22 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pengaduan Terhadap Munim Mulai Diproses
Headline
Foto : Ist
Oleh: Charles MS
metropolitan - Kamis, 22 Desember 2011 | 16:47 WIB

INILAH.COM, Jakarta Pengaduan tim pengacara terdakwa kasus Irzen Okta terhadap ahli forensik dr. Munim Idris mulai diproses oleh Krimsus Reskrim Polres Jakarta Selatan.
Pada Rabu (21/12/2012) kemarin, Luthfie Hakim dan Wirawan Adnan dipanggil untuk memberikan kesaksiannya di hadapan penyidik, Mas Waluyo, yang menangani kasus tersebut.

Anggota tim pengacara terdakwa kasus Irzen Octa itu dimintai keterangan oleh penyidik terkait dugaan pembuatan keterangan palsu oleh dr. Munim Idris. Usai menjalani pemeriksaan, mereka menjelaskan kepada wartawan bahwa kepolisian ingin mempertajam substansi laporan terhadap dr. Munim Idris.

Polisi ingin mendalami substansi pengaduan kami. Apakah dr. Munim mengungkapkan opini, atau memang mengutip hal yang tidak benar dengan cara yang juga tidak benar dalam visumnya terhadap jasad Irzen Okta yang sudah meninggal 22 hari sebelumnya, ungkap Wirawan.

Wirawan menegaskan bahwa di dalam salah satu kesimpulan hasil visumnya, Munin mengutip keterangan sementara yang dibuat oleh dr Adi Firmansyah. Ia menyatakan adanya memar pada batang otak yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Ini yang kami persoalkan, karena Munim telah mengutip hal yang tidak benar, secara sembarangan, tegasnya.

Padahal menurut para ahli, kata Wirawan, memar pada batang otak bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama karena trauma akibat kekerasan benda tumpul dan kedua karena pecahnya pembuluh darah. Sementara itu, selama persidangan berlangsung, semua saksi menyatakan tidak ditemukan adanya kekerasan tumpul, bercak darah atau lecet pada tubuh korban.

Tim pengacara terdakwa kasus Irzen Octa menganggap hasil visum dr. Munim itu sangat merugikan kliennya, karena dijadikan alat bukti sebagai bahan dakwaan oleh Jaksa penuntut umum. Di dalam Laporan dokter Ade Firmansyah tidak ada kalimat tanda-tanda kekerasan. Namun dalam laporan visum dr. Mun'im seolah-olah laporan visum dari dr. Ade mengatakan ada tanda kekerasan, tambah Luthfie.
.
Di samping itu, kata Luthfie, terdapat manipulasi atas kata-kata dr. Ade sedemikian rupa, sehingga yang terkesan meninggalnya Irzen Okta karena kekerasan tumpul. Mun'im hanya mengutip saja, ujarnya.

Menurut Wirawan , dalam rekam medis yang ada di berkas perkara, terbukti ada gejala hipertensi kronis yang dialami Irzen Okta.

Mengutip keterangan ahli, Wirawan mengatakan bahwa hipertensi inilah yang menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah di otak, sehingga pecah. Kondisi itulah yang disebut penyakit stroke. Itulah sejatinya arah diagnosa dari dr. Ade Firmansyah dalam visum resminya (pro justitia, red). Kesimpulan hasil visum oleh dr. Ade Firmansyah dalam laporan menegaskan bahwa Irzen Okta meninggal karena penyakit, bukan karena kekerasan, ungkap Wirawan.

Dengan adanya laporan dr. Munim yang direkayasa tersebut, klien kami ditahan dan dan didakwa melakukan penganiayaan, sehingga saat ini menderita kerugian moril dan material lantaran kehilangan kesempatan untuk memperoleh penghasilan, Luthfie.

Seperti diketahui, pada awal Nopember, Munim resmi dilaporkan ke polisi atas dugaan pemalsuan surat yang akan dipakai sebagai barang bukti dalam persidangan kasus meninggalnya Irzen Octa. Dokter ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu melakukan otopsi ulang atas jasad Irzen, berdasarkan hasil visum resmi yang dilakukan dr. Ade Firmansyah Sugiharto, pada tanggal 29 Maret 2011, atau 22 hari setelah kematian Irzen.

Belakangan diketahui, otopsi tersebit dilakukan atas permintaan OC Kaligis, pengacara keluarga korban. "Otopsi ulang oleh Munim bukan atas permintaan penyidik sebagaimana diatur dalam KUHAP, melainkan PRO OC Kaligis. Ini jelas ilegal, ungkap Luthfie.

Apalagi, otopsi ulang itu dilakukan ketika mayat Irzen sudah dalam keadaan tidak orisinil, karena sudah dimakamkan selama 22 hari.

Atas dugaan rekayasa hasil otopsi itu, Munim juga dilaporkan ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Indonedia, pada Rabu, 30 Nopember lalu. Pada Rabu (21/12/2011) kemarin, tim pengacara dari Soleh Amin, Adnan & Associate (SAA) juga mendatangi kantor kedua majelis itu untuk menanyakan tindak lanjut dari laporan mereka.

Di kantor MKDKI, tim yang terdiri dari Syamsul Bahri Radjam, Rinni Ariany dan Farah Dwinita itu ditemui oleh Ayudyah N, mewakili anggota Majelis. Menurut Ayudya, laporan SAA terhadap Mu'nim saat ini sudah di tangan pimpinan tinggi (Pimti) MKDKI. Selanjutnya Pimti akan membentuk Majelis Pemeriksa Disiplin (MPD), yang akan bekerja selama lebih kurang 6 bulan, ujar Syamsul menirukan ucapan Ayudya.

Menghadapi berbagai pengaduan itu, Munim Idris mengaku tak peduli. Ketika didesak, Munim enggan menanggapi semua laporan tim pengacara terdakwa kasus Irzen Okta. Bodo amat dengan laporan itu, semua akan dibuktikan di persidangan, bukan di media massa, katanya pada Nopember lalu.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER