Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 15:39 WIB

Penyeludupan Sabu dalam Daging Babi Digagalkan

Oleh : Bayu Hermawan | Rabu, 21 Desember 2011 | 20:27 WIB
Penyeludupan Sabu dalam Daging Babi Digagalkan
inilah.com/Dok
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Petugas Bea dan Cukai Selatpanjang, Riau, mengagalkan upaya penyelundupan narkoba jenis sabu dan happy five, yang disamarkan di dalam kemasan daging babi.

Menurut Kepala Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Pekanbaru, Riau, Evy Suhartantyo, narkoba jenis sabu dan happy five tersebut dibawa masuk ke wilayah Indonesia melalui kapal KM Green 5 yang berangkat dari Batu Pahang (Malaysia).

"Berdasarkan hasil boatzoeking (pemeriksaan) terhadap KM. Green 5 dari Luar Negeri (Malaysia) melalui Dermaga KPPBC Tipe B Selatpanjang yang dilakukan oleh petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Selatpanjang pada hari Selasa tanggal 20 Desember 2011 sekitar pukul 17.15 WIB dari Batu Pahat (Malaysia) yang diduga membawa barang larangan," jelas Evy, melalui keterangan pres yang diterima INILAH.COM, Rabu (21/12/2011)

Petugas yang curiga kemudian melakukan pemeriksaan secara mendalam terhadap barang bawaan ABK KM. Green 5 yang berinisial WN, ND, AN, RM, AM. Pada saat dilakukan pemeriksaan terhadap barang-barang yang dibawa oleh ABK tersebut, ditemukan adanya barang berupa 1 (satu) kotak rokok didalam kemasan daging babi.

"Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap kotak rokok tersebut kedapatan isinya berupa pil berwarna merah yang diduga Happy Five sebanyak 46 (empat puluh enam) butir. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ditemukan kantong plastik yang didalamnya dibungkus koran," jelas Evy lagi.

Setelah diperiksa, dalam bungkusan koran tersebut ditemukan 5 bungkus kemasan plastik berwarna perak, dengan berat masing-masing kurang lebih 1 kg. Ketika dibuka ternyata isi dari bungkusan tersebut adalah narkotika jenis shabu (methamphetamine).

"estimasi 5 kg sabu ini, nilai total barang lebih kurang sebesar Rp. 10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah)," ucapnya.

Selanjutnya petugas bea cukai melakukan pengamanan barang bukti dan tersangka dengan berkoordinasi pihak Kepolisian, kemudian akan diserahterimakan kepada Kepolisian untuk penyidikan lebih lanjut.

Menurut Evy, methamphetamine tergolong narkotika golongan I sehingga pembawanya bisa dianggap melanggar Pasal 113 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman pidananya adalah penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar.

"Dan karena berat barang buktinya melebihi 5 gram, pelaku diancam pidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimum Rp 10 miliar, ditambah sepertiganya," ujarnya.[bay]

Komentar

Embed Widget
x