Senin, 28 Juli 2014 | 17:19 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Skandal Ngeres Pejabat Urusan Tanah
Headline
foto:ilustrasi
Oleh: Herdi Sahrasad
metropolitan - Kamis, 15 September 2011 | 06:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Pejabat tak bermoral menjadi parasit di negeri ini. Teranyar, pejabat dilaporkan melakukan pelecehan seksual di Badan Pertanahan Nasional (BPN). Bahasa politik ‘power tend to corrupt’ berkembang menjadi ‘power tend to libido’.

Bayangkan, pejabat itu selalu menggunakan ‘'power’-nya dalam melancarkan aksi cabul di dalam ruang kerjanya di Direktorat Pengaturan dan Penetapan Hak Tanah BPN. Ruang pelaku juga dibuat kedap suara sehingga aktivitas di dalam ruangan sulit diketahui.

Bahasa politik Lord Acton ‘power tend to corrupt’ berkembang menjadi ‘power tend to libido’ karena feodalisme dan nafsunya. Ahmad Jazuli, kuasa hukum salah satu korban pelecehan mengungkapkan bahwa kejadian selalu di ruangannya yang kedap suara.

Ruangan pejabat G (44) yang berposisi sebagai direktur di direktorat itu juga terbilang sepi. Di luar ruangan G hanya terdapat seorang sekretaris, yaitu AIF (22), yang juga menjadi korban pelecehan dan seorang asistennya.

Pelaku pelecehan seksual terhadap tiga orang bawahannya di BPN itu ternyata memiliki banyak cara dalam mengintimidasi korban. Seusai melakukan tindakan tak bermoralnya, pelaku memaksa korban untuk tutup mulut.

"Kalau korban menjerit pun tidak akan ada yang tahu," kata Jazuli. Salah seorang korban lain, yaitu NPS, pernah berteriak saat bibir dan dadanya dijarah sang pelaku di BPN itu. Tapi tidak ada yang bergerak, karena dari luar tidak terdengar. Pejabat BPN itu, sebagai pelaku, sudah biasa melancarkan aksinya di sela-sela waktu kerja. Dia mencari-cari alasan agar bisa menyuruh ketiga korban mendatangi ruangannya.

Seperti diberitakan, pejabat BPN berinisial G (44) dilaporkan atas dugaan pelecehan seksual terhadap tiga orang perempuan yang menjadi stafnya. Ketiga orang itu yakni AN (25), NPS (29), dan AIF (22). G dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Selasa (12/9/2011) siang.

Pelaporan terhadap G berawal dari NPS yang sudah tidak betah selalu menjadi korban pelecehan seksual dari G. Sementara dua korban lainnya sempat bungkam karena ditekan oleh G. Namun, setelah NPS mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban pelecehan dari atasannya, dua korban lain pun akhirnya bersuara. Pelaku pun dilaporkan dengan Pasal 294 Ayat 2 KUHP tentang Pencabulan dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara.

Selain membuat laporan, korban juga menyertakan bukti rekaman berisi pengakuan pelaku melakukan pelecehan seksual di hadapan beberapa orang, termasuk suami korban. Sungguh memilukan kisah ngeres di BPN ini, yang mustinya urusannya tanah, malah digeser jadi urusan seksual. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
Zul Medan
Kamis, 15 September 2011 | 10:12 WIB
Bagi korban kesewenang2an Pejabat/ penguasa bermental Bejat, harus berani melawan. Tantang setan iblis berbentuk manusia, punya kuasa pulak. Gak perlu takut !! Pihak berwenang usut tuntas, jangan di peti es kan !!!!
Manusia
Kamis, 15 September 2011 | 08:22 WIB
Wekekekekekkk salah kalau nggak ada hubungannya, BPN itu kalau nggak salah kan ngurusi PERTANAHAN wajar dong kalau pejabatnya mengurusi 'LADANG' orang lain wekekekek parrah..
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER