Find and Follow Us

Selasa, 12 November 2019 | 09:59 WIB

Makan Pecel Siang Hari, PNS Dibawa Satpol PP

Rabu, 10 Agustus 2011 | 14:22 WIB
Makan Pecel Siang Hari, PNS Dibawa Satpol PP
inilah.com/Syamsuddin Nasoetion
facebook twitter

INILAH.COM, Bojonegoro Tujuh pegawai negeri sipil (PNS) terjaring operasi yang dilakukan oleh petugas gabungan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Inspektorat, dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Bojonegoro, kemarin. Para PNS itu keluyuran saat jam kerja.

PNS yang terkena operasi yaitu Estik, guru SD Ledok Kulon, Aulia Nursiqos, penyuluh lapangan keluarga berencana (PLKB), Sri Naning, Sri Naning, guru, Atika Nurmala, pegawai Rumah Sakit Umum (RSU) Sumberejo, Ibtida, guru, Lastriasih, pegawai Perusahaan Daerah (PD) Pasar Bojonegoro, dan Siti Kalimah, pegawai di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro.

Para PNS ini diciduk petugas saat sedang jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Bojonegoro. Ada pula, PNS yang ditangkap saat sedang makan di salah satu warung pecel terkenal di Bojonegoro.

"Operasi pada PNS ini baru pertama kali diadakan selama puasa," ujar Kepala Satpol PP Pemkab Bojonegoro, Kamidin, Rabu (10/8/2011).

Operasi pada PNS itu dilakukan mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 11.30 WIB. Sejumlah tempat yang diduga sering menjadi tempat mangkal para abdi negara itu disasar. Di antaranya, warung nasi dan warung kopi, pusat perbelanjaan, hingga musala atau masjid. PNS yang tertangkap langsung dibawa ke kantor Satpol PP Pemkab Bojonegoro.

"Saya sedang membeli bubur sebentar di pusat perbelanjaan itu. Tidak tahunya malah terkena operasi," ujar Estik, salah seorang PNS yang terkena operasi.

Dengan alasan apa pun, PNS yang melanggar jam kerja ini tetap dikenai sanksi. Menurut Suyono, petugas Inspektorat Pemkab Bojonegoro, pegawai yang tertangkap keluyuran saat jam kerja ini akan diberi sanksi sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS.

"Mereka akan dikenai sanksi tegas," ujarnya.

Sesuai aturan, PNS yang melanggar disiplin mendapatkan sanksi sesuai bobot pelanggarannya. Yaitu, bisa berupa sanksi teguran lisan, teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat, sampai pemberhentian dengan hormat atau tidak hormat.

"Kalau melanggar jam kerja, sanksinya berupa teguran tertulis. Mereka juga membuat pernyataan tidak akan mengulangi lagi perbuatannya," tandas Suyono.

Selama puasa, kinerja PNS di lingkungan Pemkab Bojonegoro tampak menurun. Tidak jarang, PNS terlihat malas-malasan dengan tidur di musala atau masjid usai salat zuhur. Padahal, sesuai surat edaran bupati Bojonegoro, jam kerja PNS sudah dikurangi satu jam dari kondisi normal. Namun, siang hari tidak ada jam istirahat.

"Tetapi, kalau salat zuhur ya dipersilakan. Tetapi, setelah itu harus langsung balik kerja melayani masyarakat. Jangan sampai, ada warga yang membutuhkan pelayanan, tetapi pegawainya malah tidak ada," tegas Kamidin. [beritajatim.com]

Komentar

Embed Widget
x