Kamis, 23 Oktober 2014 | 11:28 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sen Sen Ngaku Nabi, 10 Jadi Tersangka
Oleh:
metropolitan - Selasa, 8 September 2009 | 10:36 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Garut - Para anggota Darul Islam (DI) Filah pimpinan Sen Sen menjadi incaran kepolisian. Sen Sen mengaku sebagai Nabi Muhammad dan mengubah arah salat. 10 Orang yang diduga pengikut Sen Sen ditetapkan menjadi tersangka kasus penodaan agama.

"Mereka diduga kuat terlibat jaringan Darul Islam Filah pimpinan Sen Sen yang mengaku sebagai Rasulullah," kata Kapolres Garut AKBP Rusdi Hartono didampingi Kasatserse AKP Oon Suhendar di Garut, Selasa (8/9).

Kesepuluh warga kampung Cibodas, Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jabar, itu adalah Wawan (47), Iwan (45), dan Ion (39) yang berprofesi pedagang. Iing (38), Husen (40), Ohan (40), Herdin (39), Tatang (40), H Enjat (70), dan Daip (39) yang berprofesi buruh tani.

"Sen Sen juga telah berani mengganti kalimat Muhammad menjadi Sen Sen, juga pada saat azan dan qomat dan mengubah arah salat menjadi menghadap ke timur. Para tersangka sudah diamankan di Mapolres Garut untuk penyidikan secara mendalam sejak Senin kemarin," tutur Rusdi.

Hasil sementara pemeriksaan, lanjut dia, mereka mengaku Sen Sen sebagai Rasulullah yang selalu diucapkan dalam syahadat, azan serta qomat, dengan mengganti kata Muhammad Rasulullah menjadi Sen Sen Rasulullah SAW.

"Perbuatan mereka itu memenuhi unsur pasal 156 A KUHP tentang Penodaan Agama, dengan ancaman hukumannya selama 5 tahun penjara," imbuh Suhendar.

Pasal tersebut menyebutkan: Barang siapa di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan; a. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, b. dengan maksud agar orang tidak menganut agama apapun..... juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun.

Sementara itu seorang tokoh masyarakat Pakenjeng, Ade mengatakan, keberadaan aliran DI Filah di daerahnya menimbulkan keresahan warga, yang jika tak segera diamankan kepolisian mereka bisa menjadi sasaran amuk massa.

"Sudah 3 kali salat Jumat, kelompok tersebut mengundang kemarahan warga dengan mengubah nama Muhammad menjadi Sen Sen setiap mengucapkan syahadat, begitupun dalam azan serta qomat, juga terang-terangan mengubah arah salat ke timur," ungkap Ade.

Menurut dia, di daerah tersebut terdapat sekurangnya 20 pengikut aliran DI Filah, maka pasca penangkapan oleh kepolisian, MUI Kecamatan beserta Polsek Pakenjeng memanggil sedikitnya 10 sisa pengikut DI Filah. Di hadapan unsur Muspika serta para tokoh masyarakat dan pemuka agama setempat, mereka membuat pernyataan di atas materai akan kembali ke syariat Islam yang sebenarnya. [*/sss]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
tutylestari
Selasa, 8 September 2009 | 11:01 WIB
ada2 aja ulah manusia,di dunia ini.kita sbagia umat manusia hrs sling menghargai agama orang lain jgn menghina.saling fitnah,dan mengaku sbagai nabi muhammad itu perbuatan dosa.hidup di dunia hrs saling berdampingan,seperti yg di ajarkan agama masing2.jgn ada pelecehan terhadap agama muslim.itu adalah perbuatan yang berdosa.dan sangat di benci agama.'ingat2 jgn ada lg pelecehan terhadap agama ya,tdk baik loh'
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER