Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 14 November 2018 | 08:00 WIB

Di Magetan Ada Biskuit Beracun

Oleh : Iwan Ulhaq Panggu | Selasa, 26 Februari 2008 | 20:01 WIB

Berita Terkait

Di Magetan Ada Biskuit Beracun
istimewa

INILAH.COM, Jakarta - Seorang anak tiba-tiba merasa pusing, mual, lalu ambruk. Tak lama berselang, 79 anak lainnya ikut ambruk. Bruk! Selasa (26/2) pagi itu, 'biskuit beracun membius' 80 murid kelas I dan kelas VI SDN Puntukdoro 2, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.Peristiwa itu sontak membuat masyarakat Magetan, Jawa Timur, terkesiap. Usut punya usut, biang masalahnya ternyata berawal dari biskuit yang dijajakan Bu Ngaenah, 60, warga Desa Puntukdoro, Plaosan, yang kiosnya berada di dekat SDN Puntudoro.Biskuit Bu Ngaenah ternyata sudah kadaluarsa. Masa berlaku biskuit Bu Ngaenah berakhir Februari, Maret, dan Mei 2007. Entah karena keadaan atau sudah kurang awas, Bu Ngaenah tetap menjualnya. Dan, ke-80 siswa SD itu pun tentu belum terlatih untuk meneliti jajanan yang dilahapnya. Dari 80 korban keracunan biskuit Bu Ngaenah, 33 di antaranya harus masuk Puskesmas Plaosan. Akibatnya, puskesmas itu mendadak penuh sesak. Karena tempat tidurnya hanya ada 10, sebagian besar siswa korban keracunan itu terpaksa ditempatkan di lorong-lorong puskesmas dan lokasi lainnya. Selain itu, satu siswa lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat karena kondisinya relatif gawat.Aparat kepolisian pun turun tangan. Mereka menyita ribuan makanan yang dijajakan di sekitar SDN Puntudoro 2. "Ribuan bungkus makananan ringan kadaluarsa diperoleh dari dua orang penjual di sekitar SD Puntukdoro 2, yaitu Ngaenah dan distributor makanan Rubinah. Seluruh barang bukti yang diamankan berasal dari rumah Rubinah yang sebelumnya telah disembunyikan," kata Aiptu Joko Subur, Kanit Reskrim Polsek Plaosan Magetan, Selasa (26/2).Menurut Joko, barang bukti makanan kadaluarsa yang mengakibatkan 80 siswa keracunan sudah dibawa ke Polsek Plaosan untuk kepentingan pendataan dan selanjutnya dikirim ke Polres Magetan guna penyelidikan lebih lanjut.Dari rumah Rubinah, 48, aparat menemukan 35 karton berbagai merek makanan ringan yang semuanya telah kadaluarsa. Sebagian dari makanan-makanan itu sempat dipasarkan kepada siswa SD dengan harga jauh lebih murah dibandingkan harga semestinya.Bu Ngaenah dan Rubinah kini menjalani pemerikasaan yang berwajib. Jika penjual dan distributor itu terbukti sengaja menjual makanan kadaluarsa, keduanya dijerat Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999.Jenis makanan ringan yang sudah kadaluarsa dan berhasil diamankan jajaran Polsek Plaosan, antara lain, kacang rasa bawang Kayaking (kadaluwarsa 28 Juni 2007), kacang rasa madu Kayaking (kadaluwarsa 15 Agustus 2007), kacang rasa asin Kayaking (kadaluwarsa 26 Oktober 2007), Oops warna biru rasa ayam panggang (kadaluwarsa 18 Agustus 2007), Oops warna hijau rasa jagung bakar manis (kadaluwarsa 3 September 2007), dan penyegar mulut Tasks (kadaluwarsa 24 Januari 2007)."Semua ini terjadi akibat lemahnya pengawasan," kata pengurus harian YLKI Sudaryatmo kepada INILAH.COM, Selasa (26/2). Ia menegaskan, lembaga yang paling bertanggung jawab dalam peredaran makanan adalah Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Depkes.Sudaryatmo menilai, kasus keracunan yang menimpa 80 siswa SD ini bukan hal sepele. Pelaku usaha yang menjual produk yang tidak memenuhi standar, katanya, bisa dipenjara 5 tahun dan denda Rp 5 miliar.Kasus 'biskuit beracun' ini bukan yang pertama. Oktober 1989, 'biskuit beracun' bahkan menyebabkan 141 orang ambruk dengan 35 orang di antaranya meninggal dunia. Hasil penyelidikan menyimpulkan, ammonium bikarbonat (sejenis bahan pembuat biskuit supaya renyah) telah tertukar dengan sodium nitrit (sejenis bahan berbahaya sewaktu pemindahan bahan-bahan tersebut). Kasus itu terjadi di beberapa daerah, antara lain Tangerang (Jawa Barat), Tegal (Jawa Tengah), Palembang, dan Jambi.Tragedi terkait ketidakamanan pangan terjadi pula pada Juni 1994 di Palembang, Jambi, dan beberapa tempat lainnya. Tragedi itu mengirim 28 orang ke rumah sakit dan lima lainnya meninggal dunia. Halo, Bu Menkes Siti Fadilah, mohon awasi jajarannya di Depkes. Jangan hanya makanan di tempat-tempat elit di kota besar yang diawasi. Mohon awasi juga yang tersebar di pelosok-pelosok, ya, Bu...[I3]

Komentar

Embed Widget
x