Find and Follow Us

Jumat, 17 Januari 2020 | 19:49 WIB

Polisi Temukan Bukti Darah di Kantor Citibank

Oleh : Bayu Hermawan | Kamis, 31 Maret 2011 | 13:52 WIB
Polisi Temukan Bukti Darah di Kantor Citibank
IST
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Penyidik Polda Metro Jaya berkesimpulan motif tewasnya Sekretaris Jenderal Partai Pemersatu Bangsa (PBB) Irzen Octa, karena masalah utang kartu kredit.

Hal tersebut disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan AKBP Budi Irawan, saat dihubungi, Kamis (31/3/2011). "Motif pembunuhan karena utang, tagihan kartu kredit yang tidak sesuai," ucapnya Budi.

Terkait adanya dugaan penganiyayaan yang diterima oleh korban yang dilakukan oleh orang pihak Citibank, polisi sudah menemukan beberapa barang bukti. "Kami temukan barang bukti di TKP, berupa bercak darah yang menempel di gorden dan dinding ruangan di lantai lima," jelasnya.

Irzen Octa, Sekjen PPB, tewas pada Selasa (29/3/2011) pagi usai mendatangi kantor bank tersebut untuk menanyakan tagihan kartu kreditnya yang membengkak.Karena tidak ada kecocokan soal nilai dengan pihak bank, korban kemudian dibawa ke satu ruang di kantor Citibank yang berada di gedung Menara Jamsostek untuk diperiksa bersama debt collector dan pengawai Citibank. Usai dari kantor Citibank, korban kemudian tewas di depan Menara Jamsostek.

Menurut Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan Kompol Budi Irawan, saat ini dugaan sementara kematian Sekjen Partai Pemersatu Bangsa (PPB) Irzen Octa (50), adalah akibat tindakan kekerasan. "Kekerasan itu kan tidak hanya berupa kekerasan fisik, tapi psikis juga," kata Budi saat dihubungi wartawan, Rabu (30/3/2011).[mah]

Korban dan pihak bank kemudian tidak menemukan kecocokan jumah tagihan, yang menurut korban berjumlah 48 juta sementara pihak bank mengklaim Rp100 juta. Akibat kesal, pegawai Citibank berinisial A beserta dua rekannya H dan D menghabisi nyawa Irzen di salah satu ruang di lantai 5 gedung itu.

Polisi sendiri memang telah menetapkan tiga orang tersangka dalam peristiwa itu setelah sebelumnya memeriksa lima orang, yaitu A yang merupakan pegawai Citibank, H dan D yang bertugas sebagai debt collector. Dari hasil visum terhadap korban, diketahui pembuluh darah pada otak korban pecah.

Ketiga tersangka, kata Budi, dijerat pasal berlapis yaitu pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman 2,8 tahun, pasal 170 tentang pengeroyokan dengan ancaman 5,5 tahun dan pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan dengan ancaman 1 tahun penjara. [mah]

Komentar

Embed Widget
x