Kamis, 21 Agustus 2014 | 05:25 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sakit Lutut Akibat Kegemukan
Oleh:
metropolitan - Rabu, 22 Juli 2009 | 10:36 WIB
GANGGUAN sakit sendi lutut seringkali membuat penderita tersiksa. Hal ini akibat penggumpalan lemak pada suatu jaringan. Penyakit ini lebih banyak diderita oleh orang yang berbadan gemuk.
Daerah lutut bagian belakangnya berupa lekuk, yang disebut lekuk lutut. Dasar dari lekuk lutut dikenal dengan articulation genu dan legamentum paplaetaetium obligum. Sementara lapisannya dari permukaan ke dalam yakni kulit, lemak dan facia poplaetaea.
Di bawah facia poplaetaea terdapat bagian yang dinamakan spatium poplaetum yang berisi organ-organ berlapis dari atas ke bawah yakni nervus tibiaalis, vena poplaetae dan arteria poplaetae. Alat ini menuju sudut bawah lekuk lutut dan memberikan cabang-cabangnya.
Nervus tibialis bercabang sebagai ramos mucularis atau cabang-cabang untuk otot-otot tulang kering belakang. Arteria paplaetae memberikan dua cabang yakni nadi untuk tungkai bawah belakang dan nadi untuk tungkai bawah depan.
Gangguan pada lekuk lutut adalah, apabila lapisan lemak pada bawah kulit lekuk lutut menebal dan kemungkinan mengeras. Hal ini dapat menyebabkan gerak sendi lutut terbatas, sehingga terasa sakit bila memindahkan posisi lutut, atau menekuk lutut. Keadaan ini dikenal dengan nama rifoma (sakit lutut)
Rifoma mengganggu lutut daerah depan yaitu pada os patella dan legamentum patellae. Penyebab rifoma pada umunya ialah jaringan lemak yang menggumpal di bagian tertentu dan berisiko kontraksi pada otot sekitarnya.
Pengobatan rifoma pada prinsipnya melalui tiga cara yakni, menghilangkan causa atau penyebabnya, menjaga dan meningkatkan kelenturan jaringan otot serta daya tahan tubuh. Sementara yang terakhir adalah memotong transmisi rasa sakit dan melakukan latihan-latihan.
Tindakan massage diberikan di bagian yang berhubungan dengan rasa sakit atau di bagian yang sakit. Pada dasarnya segala bentuk pengobatan terhadap sakit adalah dengan dilakukannya blokade syaraf sensorik. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan daya tahan yang sifatnya menekan fungsi nociceptor atau syaraf nyeri.
Sedangkan untuk menekan peningkatan termiabilitas pembuluh yang timbul pada syaraf fase motor dapat dilakukan dengan pelepasan adrenalin, neurogenic yang berakibatkan fasocontriksi dan dapat dibantu dengan desplesi emosi (menurunkan kadar emosi) serta sugesti.
Semua hal itu harus diimbangi dengan tetap menjaga sirkulasi cairan tubuh, serta rileksasi seluruh jaringan dan organ, dengan pemberian vitamin dan terapi.
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER